TribunPekanbaru/

Kejari Tetapkan Dua Tersangka Dugaan Tipikor Rekayasa Kredit BRIAgro

Tersangka JYH diduga sebagai pihak yang mengatur dan mencari debitur kredit, beserta agunan yang dijaminkan ke bank.

Kejari Tetapkan Dua Tersangka Dugaan Tipikor Rekayasa Kredit BRIAgro
internet
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Ilham Yafiz

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU-Mantan Kepala Cabang (Kacab) BRI Agro Pekanbaru berinisial, SH (54) ditetapkan sebagai tersangka dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) rekayasa kredit pada bank yang dipimpinnya pada tahun 2009-2010.

Penetapan status tersangka kepadanya dolakukan oleh penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru. Ia tidak sendirian menjadi tersangka, selainnya juga ditetapkan sebagai tersangka, seorang oknum di PT Perkebunan Nasional (PTPN) V Pekanbaru berinisial JYH (58)

Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik melakukan rangkaian proses penyidikan dengan melakukan pemeriksaan terhadap dua puluhan orang saksi. Seluruh saksi terdiri dari pihak Bank, debitur, notaris, serta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Rokan Hulu (Rohul). Selain itu penyidik juga telah merampungkan keterangan dari ahli Universitas Riau.

"Ditetapkan dua orang tersangka dalam kasus BRIAgro Pekanbaru, JYH (58) warga Pekanbaru yang merupakan pensiunan pegawai BUMN PTPN V Pekanbaru, dan SH (54), mantan Kacab BRIAgro Pekanbaru. Penetapan tersangka dilakukan Selasa (5/12) kemarin," ungkap Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Pekanbaru, Azwarman, Kamis (7/12/2017).

Dari proses penyidikan, penyidik meyakini keterlibatan kedua tersangka dalam pencairan kredit di bank yang saat itu bernama Bank Agro Cabang Pekanbaru senilai Rp 4 Miliar.

Tersangka JYH diduga sebagai pihak yang mengatur dan mencari debitur kredit, beserta agunan yang dijaminkan ke bank. "Karena sebagian itu (debitur,red) adalah bawahan dan keluarganya. Dia juga diduga menikmati uang pencairan itu," lanjut Warman.

Kasus ini terjadi pada tahun 2009-2010. Saat itu, BRIAgro (sebelumnya Bank Agro) Cabang Pekanbaru, memberikan kredit dalam bentuk modal kerja untuk pembiayaan dan pemeliharaan kebun kelapa sawit yang terletak di Desa Pauh Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu, kepada 18 debitur atas nama Sugito dan kawan-kawan, dengan total luas lahan kelapa sawit seluas 54 hektar sebagai agunan.

Total kredit yang diberikan sebesar Rp 4.050.000.000 untuk 18 debitur. Masing-masing jumlahnya bervariasi, Rp 150 juta hingga Rp 300 juta. Jangka waktu kredit ini selama 1 tahun, dan jatuh tempo Februari 2010, dan diperpanjang beberapa kali sampai dengan 6 Februari 2013.

Sejak tahun 2015, terhadap kredit tersebut dikategorikan sebagai kredit bermasalah sebesar Rp 3.827.000.000 belum termasuk bunga dan denda. Agunan berupa kebun kelapa sawit seluas 54 hektar alas hak berupa SKT/SKGR tidak dikuasai oleh BRIAgro dan tidak dapat ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik karena termasuk dalam areal pelepasan kawasan 3 perusahaan serta termasuk dalam kawasan kehutanan.

"Tersangka SH selaku Kacab BRIAgro Pekanbaru kala itu diduga tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana mestinya terkait proses verifikasi dan pencairan kredit," tegasnya.

Sebenarnya ada seorang lagi yang bertanggung jawab dalam perkara ini. Yang bersangkutan dalam perkara tersebut juga pernah bekerja di PTPN V Pekanbaru, dan memiliki peran yang sama dengan JYH. Hanya saja ia telah meninggal dunia.

"Dia oknum pegawai PTPN V, dan sudah meninggal dunia. Perannya sama dengan JYH," tandas Marwan.

Atas perbuatan keduanya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal (3), jo Pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Atas perkara ini, pidsus Kejari Pekanbaru akan melanjutkan proses penyidikan dengan memeriksa saksi-saksi. Penyidik menemukan dugaan kerugian negara sebesar Rp 3 Miliar lebih.

Penulis: Ilham Yafiz
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help