TribunPekanbaru/

Marker Share IKNB Syariah Indonesia Masih Rendah, Berbagai Hal Ini Akan Dilakukan OJK

Masih banyaknya IKNB yang masih konvensional, yang menyebabkan market share keuangan IKNB syariah tetap rendah.

Marker Share IKNB Syariah Indonesia Masih Rendah, Berbagai Hal Ini Akan Dilakukan OJK
Tribun Pekanbaru/ Hendri Gusmulyadi
Pemberian materi pelatihan dalam kegiatan Gathering bersama 37 orang wartawan di Regional lima OJK, Banda Aceh, Rabu (6/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, ACEH - Saat gelaran Gatehering dan Pelatihan 37 orang wartawan yang tergabung ke dalam regional 5 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kota Banda Aceh, Rabu (6/12/2017), Direktur Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah OJK, Moch Muchlasin Memaparkan, berdasarakan data yang dihimpun per-Oktober 2017, aset industri keuangan Indonesia senilai Rp.13.384,25 triliun.

Jumlah total tersebut merupakan gabungan antara aset industri keuangan konvensional dan syariah.

Sedangkan, untuk total aset keuangan syariah sendiri cuma sebesar Rp.1.086,98. Itu belum termasuk saham syariah.

"Jadi total market share keuangan syariah cuma sebesar 8,12 persen dari jumlah total industri keuangan Indonesia yang senilai Rp.13.384,25 triliun tersebut. Tentu ini (market share keuangan sayariah, red) lebih kecil jika dibanding industri keuangan konvensioanl yang mencapai 91,88 persen," jelasnya.

Dalam penjabaran materi pelatihannya dengan judul "Perkembangan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah", Muchlasin Menerangkan, dari catatan market share keuangan syariah, IKNB Syariah hanya menyumbang 4,57 persen atau senilai Rp.96,23 Triliun.

"57 persen cabang IKNB syariah berada di pulau Jawa, 22 persen di Sumatera dan 21 persen sisanya di Indonesia Tengah dan Timur," sebutnya.

Muchlasin menguraikan, Industri Keuangan yang tergabung ke dalam IKNB syariah di antaranya asuransi, pembiayaan, modal ventura, perusahaan pembiayaan infratsruktur, penjaminan, pegadaian, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan LKM.

Di lain hal, rata-rata pertahunnya, tumbuh kembang industri keungan syariah di indonesia masih berada di angka 5 persen dan belum bisa lebih. Hal ini dikarenakan masih banyaknya IKNB yang masih konvensional, yang menyebabkan market share keuangan IKNB syariah tetap rendah.

"Dari data ini semua, menunjukkan bahwa market share aset, produk, lembaga, keuangan syariah masih harus ditingkatkan. Dan produk harus diperbanyak. Sehingga memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat. Tidak kalah penting, pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah juga perlu ditingkatkan sehingga merasa butuh produk atau layanan keuangan syariah ini," jelas Muchlasin.

Ia merinci, terkait isu strategis masih lemahnya IKNB Syariah disebebakan, IKNB Syariah mencakup berbagai macam industri dan skala. Kemudian ekonominya relatif masih kecil, kesenjangan skala bisnis (permodalan) yang cukup besar, tingginya tingkat interdependensi antar IKNB Syariah dengan sektor keuangan syariah lainnya, tingkat pemahaman dan preferensi masyarakat terhadap IKNB Syariah masih terbatas, Inovasi produk dan keragaman layanan yang masih minim, dan kanal distribusi maupun sebaran kantor cabang yang masih terpusat di Pulau Jawa.

"Belum lagi kelengkapan pengaturan belum setara antar industri dalam IKNB Syariah ini. Bahkan keterbatasan jumlah dan kesiapan SDM juga masih terbatas. Maka dari itu semua, peningkatan ketersediaan dan
Keragaman produk keuangan syariah
Sangat diperlukan. Kita juga akan memperluas akses masyarakat terhadap produk Keuangan Syariah, mengoptimalkan promosi Keuangan Syariah, kemudian kita juga akan meningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dan peningkatan Koordinasi antar pemangku kepentingan," ungkapnya. (dri)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help