TribunPekanbaru/

Visi 2020 Riau Didukung Dengan UU Pemajuan Kebudayaan yang Baru

Riau harus menjalankan amanat UU pemajuan kebudayaan ini, untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu.

Visi 2020 Riau Didukung Dengan UU Pemajuan Kebudayaan yang Baru
TribunPekanbaru/Theo Rizky
Sekitar 600 murid TK se Provinsi Riau mempertunjukkan tarian melayu kreasi saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2017 di Halaman Kantor Gunernur Riau, Selasa (2/5/2017). Selain meningkatkan kreatifitas serta mengenalkan budaya kedaerahan lewat seni tari, pertunjukan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri para murid. Peringatan yang dipimpin langsung oleh Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman tersebut kini mengambil tema : Percepat pendidikan yang merata dan berkualitas. 

Laporan Nasuha Nasution

TRIBUNPEKANBARU.com, PEKANBARU - Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan yang dikeluarkan Pemerintah Pusat sejalan dengan dukungan penuh untuk visi Riau 2020. Sebagaimana Visi Riau menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan melayu Asia Tenggara.

Bentuk dukungan tersebut disampaikan Dirjen Kebudayaan, Direktorat sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triana Wulandari, pada seminar kebudayan melayu Asia Pasifik, Rabu (6/12), di Pekanbaru.

"Pemerintah mendukung langkah Pemerintah Provinsi Riau yang telah mengeluarkan Perda sejak tahun 2001 yang lalu, dimana akan menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu Asia pasifik. Dan pemerintah mendukung dengan keluarnya undang-undang pemajuan budaya yang baru saja dikeluarkan tahun ini," ujar Triana Wulandari.

Untuk itu lanjutnya sangat relevan sekali, setelah 16 tahun mendampingi UU kebudayaan yang digarap 33 tahun oleh Pemerintah. Dan Riau harus menjalankan amanat UI pemajuan kebudayaan ini, untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu.

Triana menambahkan bahasa melayu, merupakan cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia. Dan Kemendikbud menyambut baik dalam uraian isi pemajuan UU kebudayaan, dengan mengambil pokok pikiran yang paling terkecil dari Kabupaten Kota, Provinsi, kebudayaan apa yang bisa diambil untuk dibawa ke Pemerintah pusat.

"Identitas bangsa ini untuk kemajuan kebudayan Nasional, dan salah satu dasar yang mempunyai budaya itu dari melayu. Melayu menuju negri maju, akar budaya Indoensia dari melayu. Dan saat ini Riau telah membuktikan Riau sebagai pusat kebudayaan melayu, bahkan dalam berbagai acara menundang negara Brunei, Singapura, Malaysia, Thailand," ungkap Triana.

Wakil Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim, yang membuka acara seminar tersebut mengatakan, Riau menuju pusat kebudayaan melayu Asia Tenggara hanya tinggal 3-4 tahun lagi. Untuk mencapainya, Pemerintah telah menjadi satu Dinas Kebudayaan yang mengurusi tentang kebudyaan melayu.

"Sesuai dengan tema seminar melayu se Asia Tenggara ini Melayu Se Asia Pasifik ini (Mengayuh Budaya Melayu Menuju Negeri Maju). Tentu bagaimanapun kembali ke Perda yang sudah 16 tahun ini, hanya tinggal tiga tahun lagi. Bukti nyatanya dengan memisah Disdik dan Kebudayaan. Kita kembangkan budaya melayu ini bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan aksi nyata," kata Wagubri.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan, Yoserizal Zein, mengatakan, pada seminar kali ini menghadirkan 11 narasumber, dari Kemendikbud, dari negara tetangga Malaysia dan budayawan lokal. Diantaranya, Triana Wulandari, Datuk Zainal Abidin Burhan dari Malaysia, Al Azhar, Mukhtar Ahmad, Heddy Sri, Elmustian Rahman, Mu'jizah, Junaidi, Bazrul Bin Mahaman, Rida K Liamsi, dan Taufik Ikram Jamil.

"Tujuan kita mengadakan seminar ini, mencoba mengembangkan pemikiran bahwa Riau sebagai pusat kebudayaan melayu. Kita berharap kementrian bisa membuat makalah dari kegiatan ini, dan membawanya ke pusat. Agar dalam program kebudayaan yang ada di pemerintahan bisa dibawa ke Riau sebagai kebudayaan melayu," kata Yose.

Sedangkan untuk arahan dari Kementrian Pendidikan yang mengatakan Riau menuju pusat kebudayaan melayu dengan didukung oleh UU no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, telah disiapkan sebelumnya.

Dimana objek yang menjadi pemajuan budaya, diantaranya, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan tradisional dan olahraga tradisional.

Acara seminar Budaya Melayu Asia Pasifik ini diikuti seluruh perwakilan Kabupaten Kota, dan negara-negara Asia, dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Termasuk beberapa Provinsi, seperti Kalimantan Tengah, Sumatra Barat, Sumut, Jambi dan lainnya. Seminar ini berlangsung 6-8 Desember 2017.

Penulis: Nasyuha
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help