TribunPekanbaru/

Advertorial

Saya Berani, Saya Sehat

"Tanamkan nilai-nilai religi sedari dini. Sebab, tatanan nilai agama menjadi benteng yang kuat dalam mengantisipasi virus HIV dan AIDS," kata Gubri

Saya Berani, Saya Sehat
Grafis Tribun Pekanbaru

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini melansir tentang tingginya angka kematian di kalangan remaja. Tercatat sekitar 1,2 juta remaja usia 10-19 tahun meninggal dunia setiap tahunnya. Artinya, setiap hari sebanyak 3 ribu remaja meregang nyawa di seluruh belahan bumi.

Salah satu penyebab tertinggi kematian itu adalah virus HIV AIDS. Saat ini, lebih dari 2 juta remaja di seluruh dunia hidup dengan virus HIV di tubuhnya. Virus mematikan itu menyerang akibat perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Kasus ini juga terjadi di Riau. Terdapat beberapa kasus HIV dan AIDS, yang korbannya adalah anak usia sekolah.

Fakta itu tentunya menjadi peringatan bagi kita bersama. Agar lebih berhati-hati dalam menyikapi bergesernya korban HIV dan AIDS ke kalangan remaja. Orangtua dan masyarakat memegang peranan dalam menekan dan mengantisipasi persebaran virus mematikan di kalangan generasi penerus ini.

Salah satu caranya adalah dengan menanamkan nilai-nilai religi sedari dini. Sebab, tatanan nilai agama menjadi benteng yang kuat dalam mengantisipasi virus HIV dan AIDS. Dengan pemahaman agama yang baik, anak-anak kita tentunya akan terhindar dari pergaulan bebas.

Tingkatkan pula kontrol sosial dari masyarakat. Jangan bersikap acuh tidak acuh dengan hubungan bebas antar remaja di lingkungan kita. Berikan teguran, bahkan peringatan. Selamatkan mereka sebelum terjerumus pada tindakan-tindakan merusak.

Selain itu, kepada kalangan remaja diimbau untuk memeriksakan diri sedari dini. Mendeteksi keberadaan virus ini sangat penting, guna mendapatkan penanganan medik. Sehingga dampak buruk dari HIV bisa segera ditangani. Jangan pernah malu untuk melakukan cek HIV. Sebab, rasa malu bisa berisiko kematian. Makanya, pemerintah melalu Kementerian Kesehatan melansir jargon Saya Berani, Saya Sehat !.

Berani untuk apa? Untuk mengurangi risiko penularan virus HIV. Selanjutnya, masyarakat juga mau secara sukarela memeriksakan diri untuk mengetahui status HIV-nya.

Meski persebaran HIV menelisik ke kalangan remaja, bukan berarti kaum dewasa bebas dari ancaman ini. Bila perilaku tak baik (sebagai salah satu penyebab), tetap saja berpotensi terpapar virus ini. Ketika terjebak dengan aktivitas seks bebas, hubungan sesama jenis, penyalahgunaan narkoba dan berbagai perilaku miring lainnya, tentu saja berpotensi terserang virus tersebut.

Oleh karena itu, pertahankanlah kesadaran diri. Lihatlah kepentingan hidup untuk masa yang akan datang. Simaklah sanak keluarga, anak dan istri agar kekuatan untuk menjaga diri selalu tumbuh dan terjaga.

Kemudian, bagi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), rajin-rajinlah berkonsultasi dan memeriksakan kesehatan. Agar kondisi tubuh tetap stabil. Perbanyak berfikir dan berkegiatan positif. Capailah tujuan hidup yang lebih baik.

Bagi masyarakat, sudah saatnya menghapus stigma negatif terhadap ODHA. Mereka adalah saudara kita yang punya hak untuk menjalani hidup lebih baik. Adalah kewajiban kita untuk memberikan semangat dan perlindungan atas ujian yang mereka hadapi. Bersama-sama kita hadapi penyakitnya, bukan dengan mengucilkan orangnya. (adv)

Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help