TribunPekanbaru/

Advertorial

Festival Campang Meranti yang Memacu Adrenalin

Awalnya Pacu Campang tersebut adalah tradisi masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan saat tidak menangkap ikan.

Festival Campang Meranti yang Memacu Adrenalin
Tribun Pekanbaru/Guruh Budi Wibowo
Festival Campang digelar di Selat Air Hitam, Kabupaten Kepulauan Meranti. 

JIKA di Kabupaten Kuantan Singingi memiliki event Pacu Jalur, event serupa di Kabupaten Kepulauan Meranti tidak kalah uniknya.

Hanya saja, masyarakat Kepulauan Meranti tidak menggunakan Jalur, melainkan sampan.

Sama seperti Pacu Jalur, sampan-sampan peserta festival juga dihiasi dengan hiasan yang identik dengan Naga.

Event ini dikenal oleh masyarakat Kepulauan Meranti dengan sebutan Pacu Campang.

Menariknya, event ini dilakukan dengan cara menyeberangi Selat Air Hitam yang memisahkan Pulau Tebingtinggi dan Pulau Rangsang.

Selain harus menyisihkan peserta lainnya, masing-masing peserta juga harus melawan gelombang dan kencangnya angin selat.

Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir mengungkapkan, awalnya Pacu Campang tersebut adalah tradisi masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan saat tidak menangkap ikan.

Satu Campang kecil terdiri dari 4 pendayung dan 1 orang Tekong (pengendali arah sampan), sedangkan Campang besar terdiri dari 12 pendayung dan 1 Tekong.

Festival Campang ini kata Irwan Nasir setiap tahunnya dilakukan di Desa Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat dengan jumlah Campang mencapai 100.

Selama ini kata Irwan, Festival Campang selalu digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan negara Indonesia.

Ia mengatakan, ke depan Festival Campang ini tidak hanya digelar dalam memperingati hari-hari tertentu saja, melainkan digelar untuk menarik wisatawan. 

Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help