Model Pembelajaran Reflektif pada Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 14 Pekanbaru

Di SMA Negeri 14 Pekanbaru sendiri khususnya mata pelajaran Pendidkan Kewarganegaraan menerapkan model pembelarajaran reflektif ini begitu efektif.

Model Pembelajaran Reflektif pada Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 14 Pekanbaru
Foto/Istimewa
Jummaini S.Pd, Staff Pengajar di SMAN 14 Kota Pekanbaru 

Oleh: Jummaini S.Pd
Staff Pengajar di SMAN 14 Kota Pekanbaru

REFLEKSI secara umum bermakna sebagai pikiran, pandangan yang terbentuk, atau catatan yang dibuatberdasakan hasil pertimbangan pemikiran yang serius. Dalam istilah sehari-hari, kata refleksi sering diartikan sama seperti instropeksi atau berkaca diri.

Berkaitan mengenai bidang Pendidikan memberi Batasan mengenai refleksi ini, yaitu sebagai kegiatan intelektual dan afektif dimana individu-individu terlibat dalam upaya mengeksplorasi pengalaman mereka dalam mencapai pemahaman dan apresiasi-apresiasi baru. Dan refleksi ini bisa dilakukan secara mandiri atau Bersama orang lain dalam kaitannya dengan hal yang baik maupun buru, bisa berhasil tetapi juga bisa gagal.

Namun, refleksi dalam proses Pendidikan semestinya diupayakan agara merefleksi kegaiatn yang positif. Maka dari ini dapat kita pahami yang dimaksud dengan refleksi adalah tanggapan secara mendalam dan kritis seseorang atas pengalamannya sendiri. Melalui proses ini seseorang berusaha untuk memahami arti (makna) dan konsekuensi dari pengalamannya sehingga mampu memilih tindakan yang cocok untuk pengembangan dirinya.

Tahap refleksi pada intinya meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu: 1) tahap menghadirkan kembali pengalaman; 2) tahap mengelola perasaan; 3) tahap mengevaluasi kembali pengamalaman. Tahap peratama kegiatan refleski adalah berupa proses debriefing, yaitu pelaku refleksi mencoba mengumpulkan kembali peristiwa - peristiwa yang menonjol dan menghadirkan kembali peristiwa tersebut dalam pikirannya.

Proses ini akan terbantu jika yang bersangkutan bersedia dalam kertas atau menceritakannya kepada orang lain. Pada tahap mengelola perasaan ada dua kegiatan utama yaitu; memanfaatkan perasaan yang positif dan mengubag perasaan yang menganggu. Memanfaatkan perasaan-perasaan yang positif meliputi upaya untuk memfokuskan diri pada perasaan-perasaan positif mengenai proses pembelajaran dan pengalaman yang di refleksikan.

Misalnya adanya kesadaran untuk mengumpulkan kembali pengalaman-pengalaman yang baik, memberikan perhatian pada aspek-aspek yang menyenangkan dari lingkungan, atau mengantisipasi manfaat dan keuntungan yang mungkin bisa didapat dari peristiwa tersebut. Usah mengubah perasaan-perasaan yang mengganggu merupakan langkah awalyang diperlukan seseorang agar dapat mempertimbangkan peristiwa-peristiwa yang telah dialaminya secara rasional. Hal ini bisa terjadi dengan menangisi atau mentertawakan pengalaman yang memalukan.

Selanjutnya tahap mengevaluasi pengalaman. Ketika sebuah peristiwa yang direfleksikan itu terjadi, lazimnya orang sudah melakukan evaluasi terhadap peristiwa itu. Dimana dalam tahap ini berlangsung dalam empat proses yang penting, yaitu asosiasi, integrase, validasi, dan apropriasi.

Asosiasi adalah sebuah proses mempertautkan gagasan- gagasan dan perasaan yang merupakan bagian dari pengalaman baru yang muncul dalam refleksi. Integrasi adalah proses mencari keterkaitan diantara data yang ada. Dan, proses integrasi yang pertama kali dilakukan adalah mencari sifat-sifat hubungan yang terjadi dalam proses asosiasi. Kemudian, dilakukan penarikan kesimpulan tentang pengalaman yang direfleksikan itu agar sampai pada tilikan – tilikan baru.

Setelah itu baru validasi, yakni sebuah proses menguji keautentikan gagasan dan perasan yang telah dihasilkan. Dalam validasi pelaku refleksi melakukan pengujian konsistensi internal antara apresiasi – apresiasi baru dengan pengetahuan dan kepercayaan – kepercayaan yang telah ada, sedangkang apropriasi adalah proses menjadikan pengetahuan baru itu menjadi milik pelaku refleksi. Hasil dari proses refleksi bersifat kompleks, bisa berupa salah satu atau seluuruh hal, seperti cara baru untuk melakukan sesuatu, kejelasan atas isu-isu, dan berkembangnya keterampilan atau pemecahan masalah.

Dalam muatan mata pelajaran Pendidikan Kewarganeraan model pembelajaran reflektif sungguh amat penting diterapkan bukan hanya sekedar merefleksi diri sendiri tapi lebih luwes lagi yaitu merefleksi kondisi Bangsa Indonesi kini. Muatan-muatan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya berisi mengenai muatan menyangkut kondisi kenegaraaan beserta instumentnya.

Di SMA Negeri 14 Pekanbaru sendiri khususnya mata pelajaran Pendidkan Kewarganegaraan menerapkan model pembelarajaran reflektif ini begitu efektif. Secara tidak langsung dalam kegiatan proses belajar mengajar sedang berlangsung dengan model pembelajaran reflektif ini kita menautkan kondisi bangsa pada zaman perjuangan dahulu, dengan kondisi kekininian, dan dalam konteksi apa saja seharunya guru dan siswa-siswa berjuang. (*)

Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help