Lagi Tren Terapi Pemutihan 'Mr. P' di Negeri Gajah Putih, Bisa 100 Pasien Sebulan

Adapun kebanyakan pasiennya adalah pria berusia antara 22 hingga 55 tahun yang kebanyakan berasal dari komunitas

Lagi Tren Terapi Pemutihan 'Mr. P' di Negeri Gajah Putih, Bisa 100 Pasien Sebulan
LELUX HOSPITAL/AFP/GETTY IMAGES)
Seorang pria Thailand menjalani terapi pemutihan penis di Rumah Sakit Lelux, Bangkok, Thailand 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Warga Negeri Gajah Thailand dihebohkan oleh sedang melambungnya terapi memutihkan kemaluan pria ataupenis di negara tersebut.

Nama Rumah Sakit Lelux, seperti dilaporkan AFP Kamis (4/1/2018), sedang melesat setelah 100 pria dalam kurun waktu hanya sebulan mengunjungi tempat itu untuk memutihkan kemaluannya.

“Akhir-akhir ini permintaan sangat tinggi. 100 pasien sebulan, 3-4 pasien sehari,” ucap Bunthita Wattanasiri, manajer dari departemen perawatan kulit dan laser rumah sakit bersangkutan.

“Kami sangatlah hati-hati menjalankan terapi. Ini menyangkut organ vital pria. Kami menggunakan laser kecil” lanjut Bunthita.

Adapun kebanyakan pasiennya adalah pria berusia antara 22 hingga 55 tahun yang kebanyakan berasal dari komunitas LGBT Thailand.

Terapi ini menyeruak ke publik setelah ditampilkan di televisiThailand dan media sosial melalui foto seorang pria yang tengah menjalani perawatan.

Biaya pemutihan ini tidaklah murah. Untuk lima sesi, pria yang tertarik harus merogoh 650 dolar AS (sekitar Rp 8.7 juta).

Bukan kali pertama ini saja Lelux ini menjadi perbincangan. Tahun lalu, rumah sakit yang terkenal dengan spesialisasinya di bidang perawatan kecantikan tubuh ini menawarkan produk “3D Vagina” dengan menggunakan lemak tubuh pasien untuk membuat vagina semakin montok.

Adapun terapi pemutihan bagian tubuh adalah hal yang populer di Thailand, negara di mana tidak sedikit warga terobsesi dengan warna kulit tubuhnya.

Warga Thailand menanggapi kabar ini dengan beragam.  “Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi dengan dunia ini,” komentar netizen bernama Parin Ruansati.

Ada juga yang berkomentar orang sekarang terlalu terobsesi dengan warna kulitnya dan tidak dapat menerima kenyataan. “Mengapa tidak?” tanya seorang warganet mengomentari ucapan itu.

Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help