TribunPekanbaru/

Kepulauan Meranti

Musim Angin Utara, Selain Sebabkan Abrasi Desa Mekong Juga Hancurkan Pompong dan Sampan Warga  

Beberapa hari lalu kapal pompong penarik tual sagu dan sampan nelayan pecah terhempas turap dan bebatuan di pantai

Musim Angin Utara, Selain Sebabkan Abrasi Desa Mekong Juga Hancurkan Pompong dan Sampan Warga  
TribunPekanbaru/Guruh BW
Kalaksa BPBD Meranti, Edy Afrizal saat meninjau turap yang jebol akibat gelombang laut di Desa Mekong, Kecamatan Tebingtinggi Barat. 

Laporan Reporter Tribunpekanbaru.com, Guruh BW

TRIBUNPEKANBARU.COM, SELATPANJANG-Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti, Edy Afrizal langsung meninjau abrasi yang terjadi di Desa Mekong, Kecamatan Tebingtinggi Barat setelah medapatkan informasi ganasnya gelombang yang terjadi di wilayah itu.

Menurut Edy Afrizal, fenomena alam yang terjadi di Desa Mekong selalu terjadi pada saat musim angin Utara.

"Setiap Januari hingga Februari, angin Utara pasti menimbulkan gelombang kuat. Sehingga menimbulkan abrasi pantai," ujarnya, Senin (15/1/2018).

Lebih dari itu, kuatnya gelombang di perairan tersebut juga telah menghancurkan kapal pompong dan sampan milik sejumlah warga pecah.

"Informasi dari warga, beberapa hari yang lalu ada kapal pompong penarik tual sagu dan sampan nelayan yang pecah karena terhempas oleh turap dan bebatuan di sekitar pantai," ujarnya.

Ia juga mengatakan, penahan pantai jenis turap tidak cocok di perairan Meranti yang berhadapan lansung dengan Selat Malaka.

"Cocoknya memang batu pemecah gelombang, bukan turap seperti ini," ujarnya.

Terkait upaya penyelamatan abrasi yang terjadi di Desa Mekong, Edy mengatakan akan mengajukan pembangunan pemecah gelombang ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ia juga mengungkapkan, pihaknya telah mengukur bibir pantai di Desa Mekong yang perlu penanganan serius. 

"Setelah kita ukur, pantai yang parah terdampak abrasi hampir 1 kilometer," ujarnya.

Ia juga mengimbau warga yang tinggal di sekitar pantai agar segera pindah ke daerah yang lebih aman.

Sebab, dua kali sehari saat memasuki musim utara seperti ini, gelombang laut cukup berpotensi menimbulkan abrasi.

"Pagi dan sore pasang laut akan menimbulkan gelombang kuat, sebab itu kami minta agar warga yang tinggal di sekitar pantai yang berhadapan dengan Selat Malaka agar mencari daerah yang aman," ujarnya.

Penulis: Guruh Budi Wibowo
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help