Gerhana Bulan Total

7 Adab Menyambut Gerhana Bulan dalam Islam

Hal yang tak kalah penting dari menyambut peristiwa gerhana ini adalah adanya kesadaran kita akan perlunya memperhatikan kejadian-kejadian alam

7 Adab Menyambut Gerhana Bulan dalam Islam
TribunPekanbaru/MelvinasPriananda
Gerhana Bulan langka pada 8 Oktober 2014 diabadikan dari Tangkerang, Pekanbaru, Riau. Warna merah Bulan lebih pudar, diduga akibat pengaruh kabut asap yang membiaskan cahaya. 

Oleh: Muhammad Ishom,
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

SEBAGIAN tanda keagungan Allah tampil pada fenomena alam, seperti gerhana bulan atau gerhana matahari.

Dua kejadian tersebut menjadi bagian dari ayat kauniyah yang biasanya dibedakan dari ayat qauliyah (Al-Qur’an). Ayat berarti tanda.

Maksudnya, representasi dari kemahabesaran Allah, yang seharusnya membuat manusia kian meresapi kehadiran-Nya dan meningkatkan intensitas penghambaan.

Baca: 13 Fakta Gerhana Bulan 31 Januari 2018, Terjadi 152 Tahun Lalu

Baca: Gerhana Bulan Total 31 Januari, Stasiun BMKG Padangpanjang Ajak Masyarakat Sumbar ke Jam Gadang

Dalam Islam, gerhana matahari dikenal dengan sebutan kusufus syamsi dan gerhana bulan dikenal dengan sebutan khusuful qamar.

Para pakar ilmu falak atau astronomi telah memprediksi pada tanggal 31 Januari 2018 akan terjadi gerhana bulan total yang berlangsung sekitar satu jam.

Umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) setiap kali menyaksikan peristiwa ini terjadi.

Terkait dengan peristiwa gerhana bulan, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437) menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help