Trans Celebes Bicycle Touring

Tasman Jen, Syaiful, Bambang dan Widodo Menelusuri Sungai Bakau dan Batu Karst Maros-Pangkep

Tasman Jen (60), personel Trio Lisoi bersama Syaiful (56), Bambang Trave (53) dan Widodo (53), berangkat dari Gowa menuju Desa Ramang-ramang Maros

Tasman Jen, Syaiful, Bambang dan Widodo Menelusuri Sungai Bakau dan Batu Karst Maros-Pangkep
Facebook/Tasman Jen
Tasman Jen (60), personel Trio Lisoi bersama Syaiful (56), Bambang Trave (53) dan Widodo (53), yang memulai Trans Celebes Bicycle Touring dengan bersepeda sekitar 1.800 Km, sedang menelusuri Sungai Bakau dengan batu-batu karst Maros-Pangkep 

Kawasan ini juga dikenal sebagai hutan batu terbesar dan terindah kedua di dunia setelah Karst di Yunnan, Cina Selatan, Cina.

Kawasan Karst Maros sendiri terbentuk oleh batuan gamping sejak ribuan tahun yang lalu, membentang di wilayah kabupaten Maros dan kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan luas sekitar kurang lebih 40 ribu hektare.

Keunikan karst Maros-Pangkep terletak pada bentuknya yang seperti menara dan benteng batu yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan pegunungan batu gamping yang menjulang tinggi dengan berbagai macam bentuk yang unik.

Ada sebuah menara batu yang jika dilihat dari titik yang pas akan membentuk siluet wajah.

Karst Maros-Pangkep yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah surga bagi pecinta alam.

Perahu kami memasuki satu terowongan batu, seolah-olah masuk ke alam lain. Aku teringat sebuah film fiksi the Ring of Fire, kalau nggak salah.

Lebih kurang empat puluh lima menit kami menelusuri sungai bakau dengan batu-batu kars, akhirnya kami sampai di Kampung Berru.

Kelihatan sepi di dermaga tradisionalnya. Hanya ada seorang petugas perempuan tradisional yang ramah menyapa kami. Sepertinya ini adalah bagian informasi wisata.

Aku menanyakan posisi yang bagus untuk camping. Lalu dia menunjukan ke suatu lembah yang di situ ada sungainya.

Tapi saat ini tempat itu terlalu becek untuk camping, jadi dia menyarankan kami untuk tinggal di balai-balai di atas kolam yang berdekatan dengan rumah Daeng Ajji, seorang tetua di kampung tersebut.

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved