Ada Apa dengan Pasar Baru Sungai Apit?

Dulu berjualan di tempat becek-becekan, sekarang sudah berada di lantai berkeramik

Ada Apa dengan Pasar Baru Sungai Apit?
Desain Tribun Pekanbaru
ilustrasi tribun 

Laporan wartawan Tribunsiak.com, Mayonal Putra

TRIBUNSIAK.COM, SIAK - Dulu berjualan di tempat becek-becekan, sekarang sudah berada di lantai berkeramik. Meski pasar rakyat Sungai Apit itu sudah mempunyai bangunan baru, namun pedagang tersulut api amarah.

Pedadang di pasar baru itu tidak terima dengan pembagian lapak yang diatur Dinas Pasar dan Perindustrian Pemkab Siak. Terlebih bagi pedagang yang diletakkan di lantai dua. Sepinya pengunjung membuat mereka merasa nelangsa dan rugi.

"Dinas tidak adil menaruh dan membagi lapak. Pedagang tempatan ditaruh di lantai dua. Lantai dua itu jarang dikunjungi pembeli," kata Ujang (bukan nama sebenarnya), salah satu pedagang yang merasa dirugikan, Kamis (1/2/2018).

Tidak hanya itu, pedagang juga menilai kebijakan dinas Pasar bertujuan untuk menyingkirkan pedagang tempatan. Akibatnya, protes akan terus bergulir sampai ada kebijakan baru Dinas Pasar yang dirasakan adil oleh pedagang.

Tidak hanya itu, Ujang dan kawan-kawannya juga keberatan dimintai biaya Rp 50 ribu oleh pihak dinas. Anggaran tersebut tidak diketahuinya digunakan untuk apa oleh pihak dinas.

"Kalau perlu pungutan itu dikembalikan kepada pedagang. Jangan sampai nanti jatuhnya ke pungutan tidak jelas," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pasar dan Perindustrian Siak Wan Ibrahim melalui Kepala Bidang Pasar, Sahruddin Siregar mengatakan, tudingan pedagang tersebut tidak benar. Pasalnya, pihaknya sudah menjalankan pembagian lapak sesuai mekanisme dan prosedur.

"Kita tidak mungkin menggabungkan pedagang ikan dengan pedagang pakaian. Kemudian, yang berjualan di lantai utama juga bukan orang luar, mereka orang Sungai Apit," kata dia kepada media.

Tidak hanya itu, dia juga menyebut pedagang yang memprotes kebijakan pihaknya tidaklah banyak. Paling banyak hanya 20 orang saja. Sementara untuk lantai dua, kata dia, sudah dibuatkan kios-kios yang representatif bagi pedagang.

"Saya juga heran, kok mereka pada protes. Padahal kebijakan ini untuk mereka, supaya aman dan nyaman," ujar pria yang akrab disapa Ucok itu.

Tidak hanya itu, dia mengaku petugasnya di lapangan merasa khawatir ulah protes tersebut. Sebab, para petugas juga kerap diintervensi oleh pedagang.

Terkait ada pungutan Rp 50 ribu oleh petugasnya, Ucok mengakui itu hanya untuk biaya administrasi. Itupun atas persetujuan semua pihak.

"Itu sudah kesepakatan, yang ditandatangani di atas materai 6000. Jadi uang itu untuk biaya matrai dan kertas. Kita tidak menyediakan ATK tersebut," kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan, ada pedagang yang menuding pihaknya meminta uang Rp 50 ribu tiap minggu. Padahal, kata dia, hanya sekali saja uang administrasi itu ditagih.(*)

Tags
pasar
Siak
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help