TribunPekanbaru/

Kampar

SMA Unggul Terpadu di Kampar Akan Ditutup, Kepala Sekolah Pasrah

Sekarang tinggal hanya satu rombongan belajar. Yakni, Kelas XII yang berjumlah 13 siswa. Mereka masih bertahan menunggu tamat.

SMA Unggul Terpadu di Kampar Akan Ditutup, Kepala Sekolah Pasrah
TribunPekanbaru/Nando
Gedung SUT Serambi Mekkah yang menggunakan bekas Kantor Bupati Kampar terlihat kusam dan kurang terawat, Senin (5-2-2018) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Kepala SMA Unggul Terpadu Serambi Mekkah Kampar, Muhammad Rialis pasrah sekolahnya akan ditutup. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mempertahankan sekolah itu tetap eksis.

Rialis sudah mendengar langsung informasi itu dari Dinas Pendidikan Riau. Menurut dia, solusi yang dapat ditempuh tampaknya tidak ada lagi.

"Ya, mau gimana lagi. Sekolah ini kan dibentuk oleh program Pemerintah Kabupaten Kampar. Pemkab Kampar tidak berwenang lagi," katanya, Senin (5/2/2018) sore.

Ia menggambarkan kondisi terkini sekolah yang memang sudah terseok-seok. Sekarang tinggal hanya satu rombongan belajar. Yakni, Kelas XII yang berjumlah 13 siswa. Mereka masih bertahan menunggu tamat.

Sedangkan siswa Kelas XI, semuanya mundur dan pindah ke sekolah lain. ‎ Menurut Riali, pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2017/2018, tak satupun yang mendaftar. "Mungkin karna sudah dengar isu-isu mau tutup. Makanya nggak mau lagi di sini," ujarnya.

Rialis menegaskan, proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa walau sekolah sudah dipastikan bubar. Aktivitas akan berhenti total setelah Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional nanti.

Di sekolah ini, terdapat 10 tenaga pengajar. Semua berstatus Tenaga Harian Lepas. Rialis hanya satu-satunya yang berstatus Aparatur Sipil Negara. Ia belum tahu nasib para guru honor setelah sekolah dibubarkan nanti.

Para guru THL merupakan rekrutan Pemprov Riau. "Katanya akan dipindahkan ke sekolah lain. Katanya gitu," ujar Rialis belum mendapat kepastian dari Pemprov Riau.

Sekolah ini baru berdiri pada 2012 silam. Digagas oleh Bupati Jefry Noer kala itu. Didirikan bersama SMP yang menggunakan gedung bekas Kantor Bupati Kampar.

Sebenarnya sekolah ini sudah berstatus negeri. Sejak awal di didirikan, sekolah ini menuai kontroversi. Sebab, sekolah itu dipimpin oleh Direktur yang membawahi Kepala Sekolah. Padahal negeri.

Selain itu, Pemkab Kampar mencadangkan anggaran pembangunan sekolah Rp. 25 miliar. Terkait dana cadangan ini, DPRD dan Pemkab Kampar berbeda pendapat. Dana cadangan itu akhirnya ditarik dan dikembalikan ke kas daerah setelah masa jabatan Jefry Noer berakhir. (*)‎

Tags
Kampar
Penulis: nando
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help