HPN 2018, Anin Bakrie: Media Agensy Bersatu Faktor Penyebab Media Nasional Alami Penurunan

Media massa nasional saat ini mengalami penurunan yang cukup besar, dan situasi ini di Indonesia akan terus berlanjut.

HPN 2018, Anin Bakrie: Media Agensy Bersatu Faktor Penyebab Media Nasional Alami Penurunan
TribunPadang.com/Riki Suardi
Anindya Novyan Bakrie 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PADANG - Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie didapuk menjadi salah satu pembicara Konvensi Nasional Media Massa yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018 di Kota Padang, Sumatera Barat.

Pada Konvensi Nasional Media Massa yang digelar di Ballroom Inna Muara Hotel, Kota Padang itu, Anindya memaparkan bahwa media massa nasional saat ini mengalami penurunan yang cukup besar, dan situasi ini di Indonesia akan terus berlanjut.

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan media massa nasional mengalami deflasi. Di antaranya adanya tekanan globalisasi yang didominasi dari sisi pengiklan. Kemudian, tekanan disrupsi teknologi melalui perubahan platform digital," katanya.

Pria yang akrab disapa Anin itu juga menyebut bahwa media agency yang dipimpin oleh media agency yang bersatu, juga menjadi penyebab media nasional mengalami deflasi. Bahkan, pendapatan pertahun media agency yang bersatu itu, mencapai US$20 miliar.

"Sedangkan media nasional, pendapatan rata-rata per tahunnya kira-kira Rp15 triliun atau US$1,2 miliar. Ini berbeda jauh dibandingkan media agensy yang bersatu yabg mengalami tekanan globalisasi dari sisi pengiklan," kata Anin.

Media agency bersatu itu, lanjutnya, bisa kuat dan punya nilai tawar, karena memiliki sisi SDM yang cukup banyak. Bahkan jumlah pekerja medianya, mencapai 200 ribu orang lebih. Jumlah tersebut, sama dengan jumlah pekerja media di Indonesia, khususnya industri televisi.

Satu dekade lalu, lanjutnya, media massa merupakan bisnis paling seksi karena menyentuh konsumsi domestik Indonesia. Bahkan ketika itu, juga diprediksi bahwa media akan terus berkembang karena ekonomi saat itu stabil.

"Demografinya bagus, 80 persennya dihuni kelas menengah dan 2/3-nya dihuni generasi milenial atau generasi Z yang di bawahnya. Tapi, jika dilihat Adex (belanja iklan) per PDB-nya, Indonesia masih tertinggal dengan negara ASEAN lainnya," beber Anin.

Terkait adanya disrupsi teknologi yang ditandai masuknya platform digital, kemudian beralih menjadi pemain media. Bahkan menurutnya, pemain-pemain yang memiliki platform teknologi itu juga melakukan konsolidasi dari sisi aplikasi atau platform.

"Sebelumnya hanya berupa media sosial, sekarang berubah menjadi chat Apps, search engine, dan video streaming. Tekanan itu lah yang menjadi deflasi di industri media. Kondisi ini akan terus terjadi, dan tidak bisa dielakkan," tuturnya.

Media nasional, tambahnya, tidak boleh mundur dan menyerah, meskipun saat ini banyaknya tekanan. Bahkan, dengan adanya tekanan tersebut, media nasional harus bangkit dan mencari jalan keluar agar bisnis sustainable.

"Mari mencoba untuk melayani secara 360 derajat. Media nasional ke depan juga harus menjadi gabungan platform yang ada, seperti gabungan talent production, event dan content," pungkas Anin.(*)

Tags
HPN
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help