Jaksa limpahkan berkas Tipikor Bappeda Rohil ke Pengadilan

Pelimpahan berkas tersangka dilakukan setelah penyidik merampungkan berkas dakwaannya

Jaksa limpahkan berkas Tipikor Bappeda Rohil ke Pengadilan
ilustrasi/net
ilustrasi sidang

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Ilham Yafiz

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau melimpahkan berkas tersangka dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) anggaran di Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Rokan Hilir (Rohil) tahun 2008-2011, Lukman Hakim ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru.

Pelimpahan berkas tersangka dilakukan setelah penyidik merampungkan berkas dakwaannya. Lukman Hakim yang merupakan oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Rohil. Ia ditetapkan sebagai tersangka, setelah penyidik Pidana Khusus (Pidsus) melakukan pengembangan atas perkara yang menjerat mantan Kepala Bappeda Rohil, Wan Amir Firdaus, dan tiga stafnya yaitu Pejabat Verifikasi Pengeluaran Bappeda Rohil, Rayudin, Bendahara Pengeluaran Bappeda Rohil tahun 2008-2009, Suhermanto, dan Hamka selaku Bendahara Pengeluaran tahun 2010-2011. Keempatnya telah dihadirkan ke persidangan dan divonis bersalah.

"Berkasnya kita terima tadi (Senin,red) dari JPU. Terdakwanya Lukman Hakim," sebut Panitera (Panmud) Muda Tipikor PN Pekanbaru kepasa Tribun, Senin (12/2/2018).

Selanjutnya, kata Denni, berkas perkara tersebut akan diserahkan kepada Ketua PN Pekanbaru, Arifin, untuk penetapan majelis hakim yang akan memeriksa dan mengadili perkara tersebut. "Majelis hakim yang nantinya yang akan menentukan jadwal sidang perdananya," pungkas Denni.

Sementara, keterkaitan terdakwa dalam perkara ini dimula pada persidangan dengan terdakwa Wan Amir dan tiga tersakwa lainnya. Saat itu terungkap sejumlah fakta baru yang melibatkan pelaku lainnya hingga dikeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru, dengan tersangka Lukman Hakim yang saat itu merupakan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Bappeda Rohil. Oleh Penyidik, Lukman telah dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Pekanbaru.

Untuk diketahui, dugaan korupsi ini berawal ketika Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan jumlah transaksi yang masuk dan keluar di rekening Wan Amir Firdaus sebesar Rp 17 miliar lebih. Uang itu diduga berasal dari proyek fiktif di Bappeda Rohil.

Dari penyidikan diketahui uang masuk dari praktik korupsi yang ada di rekening sebesar Rp 8,7 miliar. Sementara yang masuk dari gratifikasi Rp 6,3 miliar. Berdasarkan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ditemukan kerugian negara sebesar Rp 1.826.313.633.(*)

Penulis: Ilham Yafiz
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help