Kepulauan Meranti

Terus Merosot, Petani Kelapa di Kepulauan Meranti Mengeluh

Petani kelapa Desa Topang, Kecamatan Rangsang mengatakan, saat ini harga kelapa bulat hanya Rp1.600 per kilogramnya.

Terus Merosot, Petani Kelapa di Kepulauan Meranti Mengeluh
TribunPekanbaru/Guruh BW
Menunggu diangkut kapal lintas batas, kelapa hasil panen petani di Kecamatan Rangsang ditumpuk di tempat penampungan sementara. 

Laporan Reporter Tribunpekanbaru.com, Guruh BW

TRIBUNPEKANBARU.COM, SELATPANJANG-Petani kelapa di Kabupaten Kepulauan Meranti mengeluhkan harga kelapa bulat saat ini.

Pasalnya, hampir setiap bulan, harga kelapa bulat selalu mengalami penurunan.

Rozi, petani kelapa Desa Topang, Kecamatan Rangsang mengatakan, saat ini harga kelapa bulat hanya Rp1.600 per kilogramnya.

Padahal, pada pertengahan tahun 2017 lalu, harga jual kelapa bulat mencapai Rp3.300 per kilogramnya.

"Namun tidak berlangsung lama, sebulan kemudian harga kelapa mulai turun menjadi Rp2.700 per kilogram. Harga kembali turun secara bertahap, hinggga memasuki tahun 2018, harganya hanya Rp1.600 per kilogram," ujar Rozi, Senin (12/2/2018).

Rozi menilai, harga tersebut masih jauh dari harapan para petani dan masih kurang untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Panennya dua minggu sekali, paling banyak dalam 100 batang itu cuma menghasilkan 500 kilogram saja," ujarnya.

Hasil panen petani kelapa di Desa Topang kata Rozi, dijual ke Kepri hingga Malaysia diangkut menggunakan kapal kargo lintas batas.

Rozi berharap, ada campur tangan Pemkab Meranti agar harga jual kelapa di Meranti stabil.

"Baiknya ada pabrik pengolahan tepung kelapa di Meranti, sehingga harga kelapa stabil. Lagipula petani tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak," ujar Rozi.

Selain harga yang selalu turun, produksi tanaman kelapa sejumlah petani juga semakin menurun.

Rozi mengatakan, penurunan produksi kelapa di wilayahnya lantaran tanaman kelapa petani sudah berusia lebih dari 20 tahun.

"Ada juga tanaman kelapa yang berusia produktif, namun rusak oleh kumbang. Memang ada bantuan bibit dari pemerintah, tapi kan belum berbuah," ujarnya.

Penulis: Guruh Budi Wibowo
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help