TribunPekanbaru/

Premium Langka, Diduga Ada Permainan Dalam Pendistribusian

Pihak DPRD Riau mengkawatirkan terjadinya permainan dalam masalah pasokan BBM jenis premium, yang hanya mencapai 66 persen

Premium Langka, Diduga Ada Permainan Dalam Pendistribusian
TribunPekanbaru/Dody Vladimir
BBM Jenis premium dibeberapa SPBU di Kota Pekanbaru kerap kosong dan sulit untuk didapat, Senin (22/5/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Alexander

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Pihak DPRD Riau mengkawatirkan terjadinya permainan dalam masalah pasokan BBM jenis premium, yang hanya mencapai 66 persen.

Anggota Komisi II DPRD Riau, Sugianto mengatakan, pertemuan Pemprov Riau dan Pertamina beberapa waktu lalu, laporan dari Dinas ESDM dan Biro Perekonomian Riau ternyata untuk BBM Premium di Riau realisasinya 66 persen dari kuota.

Padahal informasi dari BP Migas, kuota Premium untuk Riau secara nasional adalah sekitar 70 persen, artinya, terdapat kekurangan sebanyak 4 persen dari jumlah kuota yang seharusnya.

"Kuotanya kurang karena apa? Apakah ada pihak yang bermain? Atau apakah memang Riau diberikan kuota yang tidak cukup? pihak Pertamina harus terbuka dan transparan terkait ini," kata Sugianto kepada Tribun, Selasa (13/2).

Dikatakannya, premium yang semakin langka dan kerap habis di SPBU, banyak dikeluhkan masyarakat. Hal ini menurutnya menjadi indikasi adanya kecurangan pendistribusian BBM jenis premium tersebut.

"Premium itu jenis BBM bersubsidi, itu hak rakyat kecil, kenapa masih dicurangi. Oknum yang bermain harus diberantas, mengapa ada selisih empat persen yang tidak direalisasikan," ulasnya.

Politisi PKB ini juga mengatakan, Pihaknya di Komisi II DPRD Riau akan melakukan sidak ke SPBU dan mengecek kelangkaan BBM jenis premium tersebut secara langsung.

Sugianto juga meminta kejelasan pihak Pertamina, mengapa dibatasi penyaluran premium dibawah kuota yang ditetapkan secara nasional tersebut.

Akibat kelangkaan premium, masyarakat beralih menggunakan pertalite. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin terpuruk sebab harga dasar dan pajak pertalite cukup tinggi menyebabkan harga jual pertalite tertinggi di Riau dari provinsi lainnya.

Sales Eksekutif Retail X daerah pemasaran Riau Pertamina Rifki Nasution yang dikonfirmasi terkait hal tersebut, membantah jika pasokan premium untuk Riau tidak sesuai dengan kuota yang ditentukan.

"Kita tidak tau, itu hitungan-hitungan 70 persen dari mana? Harus jelas dulu angkanya dari mana. Jangan sampai salah persepsi nanti," ujarnya.

Dikatakannya, jatah premium untuk Provinsi Riau sendiri merupakan tertinggi tingkat Nasional. Dimana dari total seluruh jenis BBM kuota premium untuk Riau adalah sebesar 48 persen, sisanya baru untuk pertalite, solar, pertamax dan lainnya. Sementara, untuk kuota premium nasional hanya sebesar 30 persen saja.

"Untuk premium Riau paling besar kuotanya. Sumbar saja hanya 28 persen. Karena kami tau data semuanya," ujarnya.

Ditanyakan mengapa premium masih langka di Riau, Rifki tidak bisa menjelaskan secara rinci. Ia hanya menyimpulkan bahwa proporsi premium untuk wilayah Riau jauh lebih besar. (ale)

Penulis: Alex
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help