Home »

Video

Kampar

VIDEO: Rumah Lontiok Kampar Diambang Punah, Begini Respon Kemendikbud

Tidak hanya itu kondisinya juga sudah banyak yang lapuk dan terancam punah, karena memang masih dikuasai keluarga ahli waris, sehingga sangat

Laporan Nasuha Nasution

TRIBUNPEKANBARU.com, PEKANBARU - Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Yoserizal Zen menyayangkan mulai punahnya Rumah Lontiok di Kabupaten Kampar.

Ini karena kurangnya pelestarian yang dilakukan masyarakat dan Pemerintah setempat.

Menurut Yoserizal Rumah Lontiak sendiri sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Oktober 2017 lalu. Setelah diperjuangkan Pemerintah Provinsi Riau sebagai warisan budaya.

Warisan budaya tersebut ditetapkan langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Efendy dan diterima langsung Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman saat itu.

Sebagaimana diketahui saat ini di Kampar hanya tersisa 12 unit Rumah Lontiok dan saat ini juga banyak para pengusaha mengincar rumah Lontiok tersebut untuk dibeli.

Bahkan ada juga dari Negeri Jiran Malaysia yang datang ingin membeli rumah bersejarah bagi masyarakat Kampar Riau tersebut.

Baca: Pelaku LGBT Indonesia Dikabarkan Terbanyak di Sumbar Pemprov Lakukan Pendataan Detail

Baca: Tercyduk, Nikita Mirzani Pamer Ciuman dengan Dipo Latief, Warganet Bilang Sudah Halal?

Tidak hanya itu kondisinya juga sudah banyak yang lapuk dan terancam punah, karena memang masih dikuasai keluarga ahli waris, sehingga sangat sulit dilakukan pemeliharaan.

"Jadi serba sulit di lapangan, kita mengharapkan agar sama-sama menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah ini, "ujar Yoserizal.

Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Nurmatias Mengakui persoalan seperti ini hampir terjadi diseluruh daerah ditanah air. Karena kalangan sipemilik uang cenderung ingin memiliki benda unik termasuk rumah Lontiok.

Bahkan ada juga rumah Lontiok Kampar yang dibeli pengusaha dari Sumatra Barat dan dijadikan sebagai pajangan di lokasi Wisata, begitu juga adanya rumah Gadang yang dibeli dan dijadikan sebagai koleksi didaerah lain.

"Makanya kita semua harus ikut menjaga jangan sampai punah. Masyarakat dan pemerintah daerah setempat juga harus terlibat, "ujar Nurmatias.

Penulis: Nasyuha
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help