Trans Celebes Bicycle Touring

Desa Suku Bajo Rasa Maldives, Asyiknya Surfing di Internet di Rumah Panggung Atas Laut

Perkampungan Suku Bajo tidak kalah dengan Maldives. Masyarakat hidup di atas lautan, di rumah panggung tradisional yang juga ada jaringan internetnya.

Desa Suku Bajo Rasa Maldives, Asyiknya Surfing di Internet di Rumah Panggung Atas Laut
Facebook/Tasman Jen
Tasman Jen dan kawan-kawan pesepeda naik perahu di Torosiaje Kampung Suku Bajo, menyeberangi hutan mangrove yang berdampingan dengan lautan yang memakan waktu selama 15 menit saja. Jarak yang tak terlalu jauh dengan biaya kapal Rp 5.000 pulang pergi. 

Baca: Heboh Isu Telur Palsu di Palembang, Kulit Seperti Kertas, Ini Penjelasannya!

Pukul 08.10 pagi kami sampai di pertigaan Desa Torosiaje. Kami mendayung sepeda lagi sekitar 1 Km kedalamnya di pinggir laut terdapat dermaga kecil ke desa. Objek wisata yang unik dan jarang diketahui wisatawan, saat ini ada di depan mata kami. Yaitu perkampungan suku Bajo di atas laut Tomini.

Saya pernah impikan untuk berkunjung ke Maldives, tapi belum kesampaian. Perlu kumpul dana yang aduhai mahalnya untuk ke sana. Tapi sekarang hasrat itu sudah kesampaian. Karena perkampungan Suku Bajo tidak kalah dengan Maldives.

Di sana, masyarakat hidup di atas lautan. Tapi bukan kapal pesiar melainkan rumah panggung tradisional yang di dalamnya dilengkapi fasilitas air tawar dan listrik dan juga ada jaringan internetnya. Sambil saya surfing di ìnternet sesekali merasakan angin semilir di lautan yang dapat membuat saya terbuai akan sentuhannya.

Sehingga saya pun terlena di suatu tempat yang membuat saya berpikir seakan hidup itu selalu dengan kedamaian, kalau hati sedang gundah bisa memandang ke dasar laut yang dalamnya hanya dua meter di situ berkejar kejaran ikan ikan beraneka warna di antara karang laut dengan riangnya.

Ternyata di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, Kecamatan Popayato terdapat kampung di atas lautan yang bernama Torosiaje. Kampungnya Suku Bajo yang berada di air laut Teluk Tomini yang berjarak sekitar 600 meter dari daratan.

Torosiaje berasal dari kata "Toro" yang artinya Tanjung, kalau cara pengucapan suku Bugis sebutannya koro dan "Si Aje" yang berarti panggilan untuk Pak Haji yang bernama Patta Sompa, nama warga pertama yang mendiami kampung suku Bajo.

Baca: Pengantin Baru yang Tuliskan Suamiku Selamat Jalan,  Inilah Kisah Lain dari Dyah Putri Utami

Mengapa Torosiaje disebut sebagai Kampung Suku Bajo? Menurut penuturan seorang ibu tempat kami nongkrong makan es campur,Suku Bajo sangat dominan dari suku lainnya. Padahal di Torosiaje tidak hanya suku Bajo saja yang hidup disini melainkan ada Suku Bugis, Makassar, Minahasa, Gorontalo, Mandar, Buton, Jawa dan Madura menjadi satu wilayah.

Walaupun berbeda suku tapi mereka hidup rukun satu sama lain. Mayoritas warga di Torosiaje adalah beragama Islam. Penghuni Torosiaje sekitar 1.400 jiwa penduduk, dan saat ini tidak ada izin untuk membuat rumah baru di komunitas itu lagi. Kalau mereka ingin membuat rumah baru dianjurkan di daratan.

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved