Kampar

Nyaris Baku Hantam, Warga Batu Bersurat Hentikan Paksa Alat Berat PT. SATU

Kelompok masyarakat Kelurahan Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar hilang kesabaran melihat tanah mereka dikuasai perusahaan.

Nyaris Baku Hantam, Warga Batu Bersurat Hentikan Paksa Alat Berat PT. SATU
TRIBUNPEKANBARU.COM/FERNANDO SIHOMBING
Warga Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar berkerumun di lahan yang mereka klaim diserobot PT SATU, Sabtu (2/6/2018). 

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Fernando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Kelompok masyarakat Kelurahan Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar hilang kesabaran melihat tanah mereka dikuasai PT. Sumatera Agro Tunas Utama (SATU).

Mereka turun ke lokasi dan menghentikan paksa aktivitas di atas lahan, Sabtu (2/6/2018).

Pantauan Tribunpekanbaru.com, mereka berbondong-bondong mendatangi lokasi di Sei Osang yang mereka klaim.

Menurut pengakuan mereka, lahan itu ditanami Kelapa Sawit dengan pola Koperasi Kredit Primer untuk Anggota (KKPA) bersama bapak angkat PT. Central Warisan Indah Makmur.

Warga menemukan alat berat Eskavator sedang bekerja di lokasi yang dikelola Koperasi Aneka Karya Usaha bentukan mereka. Warga yang naik pitam, melempari alat berat itu dengan tanah. Operator alat berat yang diketahui bernama Indra nyaris menjadi bulan-bulanan massa.

Beruntung tidak sampai terjadi baku hantam. Seorang tokoh setempat yang ikut bersama masyarakat, Hermansyah berupaya meredam emosi warga. Operator memberi penjelasan dan akhirnya warga mengurungkan niat kontak fisik asal seluruh aktivitas di lahan itu dihentikan.

Baca: Rakit Bom di Kampus, Ini 9 Fakta Penangkapan 3 Terduga Teroris di Kampus Fisip UR

Baca: Fakta-fakta Penangkapan 3 Terduga Teroris, Rakit Bom di Kampus Hingga Target yang Disasar

Baca: Eks Teroris Al Qaeda: Paham Radikal Sudah Masuk Kampus, Ini 4 Ciri Individu yang Patut Diwaspadai

Baca: Fahri Hamzah Kritik Aparat Bersenjata Masuk Kampus Kita Kembali ke Zaman Batu

Indra kepada warga, mengaku tidak tahu-menahu soal kepemilikan lahan. "Kami hanya makan gaji di sini," ujarnya memelas. Setahu dia, alat berat itu milik Hartono, seorang yang diketahui pemilik PT. SATU.

Menurut Indra, orang yang mempekerjakannya memberi penjelasan soal status kepemilikan lahan. Lahan itu diklaim telah dibeli dari pihak lain.

Diyut, salah seorang warga kepada awak media, mengatakan, pihaknya telah beberapa kali memperingatkan perusahaan Kelapa Sawit itu untuk meninggalkan lokasi. Namun perusahaan terkesan tidak peduli.

"Surat dari KUD sudah dilayangkan, meminta supaya jangan bekerja. Surat diantar ke kepolisian dan koramil. Tapi nampaknya tidak diindahkan," ujar Diyut. Ia menilai wajar jika warga kemudian geram dan mengambil tindakan.

Menurut Diyut, masyarakat meminta agar Hartoni tidak melakukan aktivitas apapun di atas lahan sengketa sampai ada titik terang dalam penyelesaian konflik.

PT. SATU dituding telah menyerobot lahan masyarakat sekitar 170 hektar. (*)‎

Penulis: Fernando
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help