Advertorial

Kios Daging yang Hygiene, Kenapa Tidak?

Penyediaan daging untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani yang terus meningkat khususnya di pasar tradisional

Kios Daging yang Hygiene, Kenapa Tidak?
TribunPekanbaru/Dodi Vladimir
Seorang pedagang daging sedang melayani pembeli di Pasar Senapelan Pekanbaru, Senin (1/6/2016). Menjelang bulan Ramadhan harga daging sapi di Pasar Tradisional yang berada di Pekanbaru masih stabil dengan kisaran harga Rp 120 ribu per-kg. Pemerintah pusat bakal membuat kebijakan dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi atau HET daging, dengan harga sekitar Rp 80-90 ribu per kilo. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Penyediaan daging untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani yang terus meningkat khususnya di pasar tradisional hingga kini belum dapat perhatian. Alhasil, aspek kualitas daging pada tahap ini cenderung terabaikan.

"Padahal situasi pasar tradisonal dengan segala kegiatan dan kondisi lingkungannya justru memiliki potensi kontaminasi yang tinggi terhadap daging yang dijajakan," ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, Drh Askardiya R Patrianov MP, Senin (4/6).

Dijelaskannya, Undang undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta PP Nomor 22/1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner telah menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjamin kesehatan dan ketentraman batin masyakarat. Khususnya dalam mengkonsumsi daging melalui penyediaan daging yang ASUH ( Aman, Sehat, Utuh, Halal ).

Diakuinya, upaya pembenahan kios daging yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah selama ini lebih cenderung pada rehabilitasi pembangunan fisik. Yaitu dengan detail desain berdasarkan kelaziman konstruksi secara umum. Sementara aspek teknis higiene sanitasi yang dipersyaratkan belum dipertimbangkan.

Tak hanya itu, penertiban penjajaan dagingpun belum secara konsisten dilaksanakan. Sehingga peluang tersebut dimanfaatkan oleh para pelaku usaha skala kecil dengan sarana penjualan seadanya dapat menjajakan di sembarang tempat di lokasi pasar.

Berkenaan dengan kondisi tersebut, dalam rangka meningkatkan penyediaan daging yang aman dan layak konsumsi, Patrianov menilai diperlukan terobosan program fasilitasi kios daging pasar tradisional secara bertahap dan berkelanjutan.

Disadari bahwa untuk dapat mewujudkan penyediaan daging yang ASUH di pasar tradisional pada kenyataannya relatif berat. Mengingat permasalahan yang dihadapi tidak sekedar masalah teknis tetapi juga masalah sosial yang justru relatif dominan.

Untuk itu, ungkap Patrianov, sangat diperlukan komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah dan semua stakeholder terkait untuk mendukung pelaksanaan program ini.

Diharapkan dengan terealisasinya fasilitas kios daging di pasar tradisional maka daging yang dijajakan dapat terjamin keamanan dan kelayakannya sebagai bahan pangan bagi masyarakat. Sekaligus juga akan dapat mencegah terjadinya praktek penyimpangan kualitas daging yang beredar di masyarakat.

Dijelaskan dia, sarana bangunan dan peralatan kios daging yang sesuai kaidah-kaidah teknis hygiene-sanitasi ada beberapa ketentuan. Seperti, bangunan kios daging terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat atau korosif, kuat, mudah dibersihkan. Juga tidak boleh terbuat dari kayu atau bahan-bahan yang bersifat toksik.

Halaman
123
Editor: Sesri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help