Tak Banyak yang Tahu, Gotze Beberkan Boroknya Karakter Pep Guardiola
Pemain kelahiran 1992 tersebut juga menyatakan bahwa Guardiola adalah pria yang kurang memiliki empati.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Rasa hormat Mario Goetze kepada Pep Guardiola, tak bisa menghapus kenangan tak mengenakkan sang pemain.
Mario Goetze menyatakan bahwa ia mengagumi sosok pelatih Manchester City, Pep Guardiola, kendati ia tak memungkiri bahwa telah mengalami masa yang tak harmonis kala dilatih di Bayern Muenchen.
Goetze memang menjadi rekrutan pertama pada musim pertama Guardiola menangani Bayern Muenchen, 2013 silam.
Akan tetapi, tiga gelar yang berhasil Goetze saber bersama Guardiola, tak menjadikannya mampu menampilkan performa terbaik ketika dipaksa dimainkan di posisi sayap.
Sedangkan posisi natural pemain 26 tahun itu adalah gelandang serang.
Baca: Masih Ingat Mantan Suami Suzanna Clift Sangra, Begini Kabar Terbarunya
Baca: 5 Kebiasaan Unik Pemudik di Indonesia, dari Tas Kardus Isi Ayam Hingga Naik Motor Jarak Jauh
Baca: Inilah Starting XI Pemain Gaek yang Berlaga di Piala Dunia 2018, Paling Tua Berusia 45 Tahun
Ia pun membeberkan ketidakcocokannya kepada sang pelatih 47 tahun, mesi ia mengapresiasi rekam jejak eks pealtih Barcelona tersebut.
"Secara teknis Pep Guardiola adalah salah satu pelatih terbaik, ia memiliki kempetensi yang kaya," kata Goetze dalam film dokumenter "Being Mario Goetze" produksi DAZN, dilansir BolaSport.com dari laman Goal.
"Tapi saya rasa ia hanya berpikir pada satu sisi, tanpa memperhatikan pendapat orang-orang di sekelilingnya," tutur Goetze menambahkan.
Pemain kelahiran 1992 tersebut juga menyatakan bahwa Guardiola adalah pria yang kurang memiliki empati.
Suatu keadaan yang kontras dengan yang ia rasakan bersama Juergen Klopp di Borussia Dortmund sebelumnya. Sebab, Klopp dianggapnya seperti bapak.
Baca: Langka, 4 Peristiwa Langit Akan Terjadi Sekitar Lebaran Tahun Ini
Baca: 5 Makanan yang Bisa Cegah Mabuk Saat Mudik, Tak Perlu Khawatir Perjalanan Jauh
Baca: Urusan Percintaan, 5 Zodiak Ini yang Paling Payah, Bahkan Lebih Baik Sendiri
Baca: Jelang Piala Dunia 2018, Ronaldo Harus Waspadai Sosok Rival Baru Ini, Bukan Messi atau Neymar
"Pep benar-benar berbeda.
Saya pikir pelatih kelas dunia juga butuh empati, setiap atlet juga manusia, dan Anda harus menjadi keduanya (manusia dan seorang profesional)," ujar Goetze.