Siak

Inilah Kisah Dentuman Meriam yang Mendebarkan di Tepian Bandar Sungai Jantan

Lentam -lentum tembakan meriam di tepian bandar sungai jantan, Selasa (12/6/2018) malam membuat perasaan sangat mendebarkan.

Inilah Kisah Dentuman Meriam yang Mendebarkan di Tepian Bandar Sungai Jantan
Tribun Pekanbaru/Mayonal
Peserta festival meriam bambu bersiap mendentumkan meriamnya di tepian bandar sungai jantan, sungai Siak, Selasa (12/6/2018). 

"Saya kira bambu pada meriam mereka ini belum terlalu matang atau tua. Kalau kami dulu bambunya itu kalau dapat yang paling tua di bagian pangkal. Itu mencarinya ke hutan-hutan. Dan kalau bisa betung," ceracau dia, yang kadang bersorak gembira bila ada dentuman yang sangat kuat.

Baca: Dua Orang Ini Kedapatan Lakukan Pungli di Pelabuhan Kuala Enok Tembilahan

Tradisi meriam bambu sebenarnya sudah lama lenyap di kota Siak. Karena pemerintah daerahnya terlanjur menjual Siak sebagai daerah pariwisata, tradisi lama yang umum pada masyarakat rumpun Melayu semacam meriam bambu itu dibangkit-bangkitkan kembali.

Pada 1990 an, dentuman meriam bambu masih sangat ramah di telinga masyarakat. Tradisi yang dimulai oleh entah siapa itu satu persatu hilang dari kebiasaan. Sejak 2000an sampai di atas 2010 an, sama sekali tidak terdengar lagi dentuman khas meriam bambu. Masyarakat Sumatra Barat menyebut meriam bambu itu sebagai bodia-bodia batuang. Daerah lain mungkin beda lagi.

Baca: Jamin Kelancaran Mudik, Polres Inhu Siagakan Enam Orang Bersenjata Lengkap

Tetapi menurut Kepala Dinas Pariwisata Siak, Fauzi Asni, tradisi meriam bambu bukanlah tradisi yang khas pada bulan Ramadan saja. Tetapi bunyi meriam itu sudah ada sejak zaman kerajaan Siak dulu.

"Bunyi meriam semasa itu sebagai pemberi tanda berita baik dan berita duka seperti berita kematian dan berita kelahiran seorang putra Sultan," kata Fauzi, meskipun sulit sekali ditemukan referensi tentang meriam bambu menjadi pertanda kematian atau kelahiran putra sultan.

Hal tersebut di atas dikatakan oleh Fauzi Asni dilokasi berlangsungnya festival. Bahkan, festival meriam bambu digelar untuk mewarisi tradisi masa lalu kepada generasi sekarang.

Baca: Alasan Sesungguhnya Lopetegui Dipecat Timnas Spanyol, Sang Pelatih Telah Langgar Nilai Etik!

"Kita buat kegiatan ini, teradisi bunyi meriam buluh (bambu) ini sudah ada sejak masa kerajaan, namun seiring perkembangan zaman tradisi ini hilang, makanya kita wariskan tradisi ini kepada generasi sekarang," kata dia.

Menurutnya, sebagai daerah tujuan wisata kabupaten Siak harus memiliki event sebagai pendukung objek wisata yang sudah ada. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang berwisata ke kabupaten Siak.

Tokoh masyarakat Siak, Said Muzani menyebut meriam bambu di masyarakat Siak adalah tradisi sejak zaman kerajaan dahulu. Tetapi dia tidak menyebut sultan yang keberapa yang memulainya.

"Begitu juga di bulan Ramadhan sebagai pertanda Ramadhan sudah masuk mengabarkan ke seluruh pelosok negeri maka dibunyikan meriam karena pada masa dahulu tidak ada alat komunikasi," ungkap Muzani.

Baca: Dinkes Inhil Siagakan 345 Tenaga Kesehatan Pada Musim Mudik 2018

Halaman
123
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Budi Rahmat
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help