Inilah Penyebab Perairan Riau Rawan Jadi Sasaran Pencurian Ikan

Perairan Riau sangat rawan menjadi sasaran pelaku pencurian ikan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh garis pantai.

Inilah Penyebab Perairan Riau Rawan Jadi Sasaran Pencurian Ikan
TribunPekanbaru/Guruh Budi Wibowo
PSDKP bersama tim gabungan memeriksa hasil tangkap dan alat tangkap nelayan di perairan Kuala Merbau, Kepulauan Meranti, Rabu (24/8/2016) 

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com,  Nasuha Nasution

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kementerian Kordinator Kemaritiman Dedy Miharja menyebutkan garis pantai Riau lebih dari 2700 Kilometer dan perairan yang luas menjadikan Riau daerah rawan terjadinya pencurian ikan (ilegal fishing).

Baca: Jadwal MotoGP Jerman 2018 - Dani Pedrosa dan Jorge Lorenzo Dicemburui Johann Zarco

Apalagi perairan Riau sendiri berbatasan langsung dengan Selat Malaka dimana jalur perdagangan di Asia Tenggara dan berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan beberapa negara Asean lainnya.

"Panjang bibir pantai Riau mencapai 2700 tentunya sangat panjang dan menjadi rawan terjadinya ilegal fishing, "ujar Dedy Miharja kepada Tribunpekanbaru.com, saat berkunjung ke Riau Sabtu (8/7/2018).

Menurut Miharja yang paham dan tau data pastinya pencurian ikan di perairan Riau adalah Pemerintah Daerah melalui Dinas perikanan dan Kelautan. Pihaknya sendiri hanya melakukan upaya pencegahan terjadinya ilegal fishing di perairan Indonesia termasuk Riau.

Baca: Penumpang Membludak Tiket Terbatas, Petugas Pelabuhan Roro Dumai Lakukan Ini

"Kami mengakui dengan panjangnya perairan itu tidak menutup kemungkinan pencurian ikan di Riau. Hanya saja kami belum memiliki data lengkap berapa potensi ikan Riau yang dicuri, "jelas Dedy Miharja.

Namun saat ini lanjut Dedy Miharja pihaknya di Kementerian Kordinator Kemaritiman sudah memiliki sejumlah rencana aksi dalam mengantisipasi terjadinya ilegal fishing di Indonesia. Salah satunya mengumpulkan negara yang terlibat dalam pencurian ikan di Indonesia.

Baca: Hasil Final Indonesia Open 2018 - Perang Saudara, Fukushima/Hirota Juara Indonesia Open 2018

"Ada tiga klasifikasi dibuat ada negara korban dalam hal ini Kita Indonesia kemudian Negara pencuri ikan dan selanjutnya negara penampungan hasil ikan curian, ini akan terus dilakukan sehingga negara penampung ikan curian ini tidak mau lagi menjadi penadah, "ujarnya.

Progres sendiri saat ini menurut Dedy dari data yang didapat pihaknya sejumlah negara di Eropa juga sudah mendapatkan kartu kuning karena mengendalikan hasil ikan curian dari Indonesia.

Baca: Meski Digemari, Ternyata Jengkol Tak Masuk dalam Daftar Bahan Kebutuhan Pokok Penting

" Tentu ini progres yang bagus sebagai upaya meminimalisir dan mencegah terjadinya ilegal fishing di Indonesia, "ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Nasyuha
Editor: Budi Rahmat
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help