Pilpres 2019

PKS Ancam Pecah Kongsi, Waketum Gerindra: Saya Bisa Pahami Keinginan PKS

Majelis Syuro PKS, Tifatul Sembiring bahwa PKS lebih memilih pecah kongsi dengan Gerindra jika kadernya tak ada

PKS Ancam Pecah Kongsi, Waketum Gerindra: Saya Bisa Pahami Keinginan PKS
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS Anis Matta, dan Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi (kiri ke kanan) saat deklarasi dukungan PKS kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Jakarta, Sabtu (17/5/2014).(KOMPAS/HERU SRI KUMORO) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Deklarasi Maju Pilpres 2019, Anis Matta Ingin Duet dengan Prabowo", 

TRIBUNPEKANBARU.com -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengaku memahami sikap PKS yang bersikukuh agar kadernya mendapat posisi calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.

Sikap itu, kata dia, muncul karena PKS sudah bekerja sama dengan Gerindra selama ini.

"PKS dengan Gerindra itu sudah demikian lamanya bekerja sama dan kemudian PKS juga sudah selama ini sengan sabar menunggu penjajakan," ujar Dasco saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

"Kemudian secara bersama di pilkada-pilkada sehingga statement dari PKS tersebut saya bisa mengerti dan memahami dan dapat menerima bahwa keinginan PKS cawapres harus dari PKS," lanjut dia.

Baca: Kelola Hingga Rp1 M, Mayoritas Kepsek di Meranti Belum Ikut Diklat Cakep

Hal itu disampaikan Dasco menanggapi pernyataan Anggota Majelis Syuro PKS, Tifatul Sembiring bahwa PKS lebih memilih pecah kongsi dengan Gerindra jika kadernya tak ada yang dipilih menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto.

Menurut Dasco, Partai Gerindra akan duduk bersama dengan PKS dan PAN untuk membicarakan opsi-opsi cawapres pendamping Prabowo.

PKS telah menyodorkan sembilan nama sebagai cawapres. Sementara PAN mengusulkan ketua umumnya, Zulkifli Hasan.

Baca: 10 Atlet Tinju PPLP Riau Bertolak ke Bengkulu Ikuti Kejurnas

Sebelumnya, Tifatul menyatakan, pihaknya tidak akan terima jika Gerindra tidak memilih cawapres dari PKS.

"Itu enggak bisa ditawar. Cawapres harus dari PKS. Kami enggak mau jadi penggembira aja dalam pilpres ini. Kalau kami disuruh dukung-dukung aja, mungkin enggak? Mungkin kami lebih baik jalan masing-masing aja," kata Tifatul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Karena itu, PKS membuka opsi berkoalisi dengan partai lainnya seperti Demokrat untuk meloloskan opsi cawapres dari partainya.

Apalagi, kata Tifatul, Pemilu 2019 berlangsung serentak antara Pilpres dan Pileg sehingga dibutuhkan kader partai sebagai capres atau cawapres untuk meningkatkan keterpilihan partai di legislatif.

Meski Gerindra memunculkan opsi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai cawapres pendamping Prabowo, Tifatul optimistis kader dari PKS tetap yang dipilih.

Ia menyatakan, sejauh ini PKS masih tetap optimistis bisa berkoalisi dengan Gerindra meski belum mencapai titik temu hingga kini. "

PAN juga udah dikasih kesempatan, 2014 mereka cawapres, capres Pak Prabowo, tapi yang setia sampai sini kan PKS," lanjut dia.

Editor: David Tobing
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help