Home »

Video

Hari Kemerdekaan

VIDEO: Bukti Jejak Perjuangan Mahmud Marzuki dalam Merebut Kemerdekaan di Kampar

Bahkan, di Kampar ada Jalan Mahmud Marzuki, Desa Kumantan Kecamatan Bangkinang Kota, salah satu jalan

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Sosok Mahmud Marzuki memang sangat dikenal di Kampar.

Bahkan, di Kampar ada Jalan Mahmud Marzuki, Desa Kumantan Kecamatan Bangkinang Kota, salah satu jalan besar di desa itu. Di jalan ini pula terletak Kantor Desa Kumantan.

Desa Kumantan adalah tempat kelahirannya pada tahun 1911. Ia mempersunting seorang wanita Kumantan juga sebagai istri, Sholehah pada 1934. Kemudian Maimunah dari Muara Jalai pada 1939.

Baca: VIDEO: PSPS vs Persis Solo Liga 2 2018, Menanti Tuah Stadion Rumbai

Baca: Pelaku Pemerkosa Bidan Desa di Ukui Ditangkap, Melawan Hingga Dilumpuhkan Petugas

Ia bukan saja dikenal di Kampar saja. Keterkenalannya juga sampai ke Payakumbuh, Sumatera Barat. Buktinya, dia pernah menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah di Payakumbuh.

Menurut referensi yang diajukan ke Kementerian Sosial, perjuangannya membela tanah air dari penjajahan Belanda dimulai pada 1936. Kala itu, dia belajar di Aligar Muslim University India melalui Perak-Malaysia jajahan Inggris sampai 1938.

Pada 1939 sampai 1942, Mahmud menjalankan misi sebagai guru dan mengajarkan Agama Islam. Bersamaan memupuk jiwa nasionalisme dan menyerukan semangat persatuan pada setiap dakwah. Sampai mendirikan Kepanduan Hizbul Wathan di Air Tiris.

Baca: Sandiaga Uno Pamit ke Anies Baswedan. Foto di Akun Instagramnya Bikin Terharu

Baca: BREAKING NEWS: Luis Milla Umumkan Skuat Timnas U23 untuk Asian Games 2018, 3 Pemain Dicoret

Memasuki masa penjajahan Jepang, Mahmud terus berjuang melalui dakwah. Sampai akhirnya ke zaman kemerdekaan Indonesia yang pertama sekali sampai kabar itu di Bangkinang melalui Telegram pada 5 September 1945.

Setelah mendapat kabar itu, Mahmud memimpin Rapat Muhammadiyah di Muara Jalai untuk membahasi Proklamasi. Rapat itu menyepakati pengibaran bendera Merah Putih pada 9 September.

Mahmud bertugas sebagai penggerek bendera dalam upacara pengibaran di Lapangan Merdeka, bekas Kantor Controleur Bangkinang. Pada Oktober 1945, terjadi tragedi yang dikenal dengan Durian Danau Bingkuang. Tujuh tentara Jepang dibunuh oleh Pemuda Keamanan Rakyat.

Baca: Hari Ini 10 Agustus 2018 AHY Ulang Tahun ke-40

Baca: Antara Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno Kemana Demokrat akan Berlabuh?

Seminggu kemudian, sekitar 20 truk tentara Jepang dengan bersenjata lengkap menyerbu Bangkinang.

Halaman
12
Penulis: nando
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help