Pilpres 2019

Suhu Politik Ikut Panasi Dunia Maya, Anggota DPRD Meranti Polisikan Netizen karena Kata 'Murtad'

Jelang Pilpres 2019, suhu panas politik di Indonesia mulai merambah ke dunia maya.

Suhu Politik Ikut Panasi Dunia Maya, Anggota DPRD Meranti Polisikan Netizen karena Kata 'Murtad'
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Joko Widodo (kiri) dan KH Maruf Amin (kanan) 

Laporan Reporter Tribunpekanbaru.com, Guruh BW

TRIBUNPEKANBARU.COM,SELATPANJANG - Jelang Pilpres 2019, suhu panas politik di Indonesia mulai merambah ke dunia maya.

Hal tersebut tampak dengan ramainya opini dan tanggapan netizen yang pro dan kontra terhadap masing-masing pendukung Capres dan Cawapres berujung laporan ke polisi.

Hal itu dialami oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, M Tartib Muhyudin.

Baca: Juara Satu Voli Piala Gubri 2018, Pekanbaru Terima Uang Pembinaan Rp 30 Juta

Tartib tidak terima dengan komentar salah satu netizen pemilik akunt Facebook ACan Tracker yang menulis "klaw warga NU pasti memilih Jokowi-Ma'ruf....Ntah Klaw NU yg murtad..." di dindingnya, Tartib lantas melaporkannya ke Reskrim Polres Kepulauan Meranti.

Saat ditemui di Mapolres Kepulauan Meranti, Rabu (15/8/2018), M Tartib menuturkan, komentar tersebut ditulis oleh akunt ACan Tracker pada Selasa (15/8/2018) malam.

Tulisan tersebut kata Tartib mengomentari statusnya yang menulis 'Kalau Pilpres dilaksankan hari ini, anda pilih yang mana? 1. Jokowi-Makruf  2. Prabowo-Sandi.'

Tulisan itu diunggah pada 10 Agustus lalu.

Baca: BNNP Riau Bongkar Modus Pendistribusian Narkoba, Paket Diletakkan di Tiang Listrik

"Netizen lain mengomentari yang positif dan biasa saja, namun komentar dari ACan Tracker ini sangat keterlaluan. Dia menilai warga NU yang tidak memilih Jokowi-Makruf adalah murtad," ungkap Tartib.

Komentar tersebut kata Tartib sangat melukai dirinya, baik sebagai warga NU mapun pribadi.

Terlebih, mantan ketua GP Anshor Kabupaten Meranti ini menilai, tidak ada satupun fatwa yang dikeluarkan ulama NU seperti itu.

"Saya sebagai orang NU sangat tersinggung, dan ini sangat membahayakan. Komentar dia bisa mencoreng NU," ujarnya.

Tartib menjelaskan, ia akan tetap membawa kasus tersebut ke pihak kepolisian meskipun pemilik akun Facebook ACan Tracker telah menghapus tulisan komentar dan menyatakan maaf di dinding facebooknya.

Ia berharap, dengan dibawanya kasus tersebut ke ranah hukum, bisa menjadikan edukasi politik yang santun dan bersih di tengah-tengah masyarakat.

"Dia sempat menulis permintaan maaf di halaman facebooknya, permintaan maaf saya terima. Namun, saya tetap akan laporkan," ujarnya. (*)

Penulis: Guruh Budi Wibowo
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved