Riau

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Dompet Dhuafa Riau Ekspedisi ke Desa Tasik Serai

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Dompet Dhuafa Riau lakukan Ekspedisi Pekan Muharram Dai Pedalaman ke Desa Tasik Serai

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Dompet Dhuafa Riau Ekspedisi ke Desa Tasik Serai
Tribun Pekanbaru/ist
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Dompet Dhuafa Riau Ekspedisi ke Desa Tasik Serai 

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com: Zul Indra

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Dompet Dhuafa Riau lakukan Ekspedisi Pekan Muharram Dai Pedalaman ke Desa Tasik Serai, Kecamatan Mandau, Kabupaten Kengkalis.

Berbagai rintangan dan halangan mereka hadapi selama dalam perjalanan menuju Desa tasik Serai yang berada di dalam kawasan perkebunan sawit dan hutan kaum Sakai itu.

Pimpinan Dompet Dhuafa Riau, Ali Bastoni kepada Tribunpekanbaru.com pada Ahad (16/9/2018) menjelaskan, perjalanan tersebut membutuhkan waktu dua jam dari pusat kota Duri menuju titik Desa Tasik Serai menggunakan mobil.

Baca: Polisi Maksimalkan Pengumpulan Fakta Dugaan Penggelapan Panen Sawit Masyarakat Rohil

Baca: Ingin Ciptakan Pemilu Damai, Tokoh Masyarakat Pekanbaru Gelar Silaturahmi di Rumbai

"Dari desa kita tidak bisa lagi memakai transportasi mobil, maka harus memakai kendaraan bermotor. Kami memakai motor besar seperti trial dikarenakan medan yang dilalui berupa tanah gambut, jika hujan berlumpur, karena sangat basah dan jika panas akan berdebu,"ucapnya.

Ali menceritakan, perjalanan itu juga melewati rimba yang hanya diberi warga sebilah papan untuk bisa melewatinya.

Menurutnya, membutuhkan keahlian dan penuh tantangan bagi orang-orang baru yang datang ke sana.

"Di suatu titik, kita akan melewati jembatan kecil yang hanya dibelintangkan balok kecil sejengkal orang dewasa. Jika tidak stabil sudah jelas akan masuk kanal yang ada di sana. Kita juga melewati beberapa jembatan serupa, hingga sampai di sungai yang bermuara ke sungai Siak.
Kita terpaksa menyeberangkan motor dengan sampan kecil yang hanya bisa mengangkut tiga motor dengan penumpang beberapa saja. Sampannya tanpa mesin dan hanya didayung hingga seberang. Sekitar 15 menit baru kita sampai di pemukiman warga yang dihuni 104 KK. Waktu perjalanan yang dibutuhkan dari desa ke tempat lokalisasi dakwah lebih kurang 1,5 jam,"paparnya.

Baca: Komisi III Segera Panggil BUMD Soal Rencana Penambahan Modal

Baca: PTPN 5 Gelar Kejuaraan Tenis Lapangan Kelompok Umur 10-18 Tahun

Ali mengatakan, Dusun Bagan Beneo termasuk dalam cagar alam biosfer yang memiliki undang-undang dan ketentuan yang terikat untuk membangun  dan hal-hal lainnya.

"Tapi sesungguhnya sebelum wilayah itu disahkan dalam lingkupan cagar alam biosfer, warga sudah hidup bertahun-tahun di sana, berdasarkan kisah dari tetua. Paguyuban suku Melayu itu berasal dari kerajaan Siak. Tentu mereka punya hak dan suara-suara serta jeritan yang harus kita dengarkan. Kita Dompet Dhuafa Riau Insyaaallah hadir untuk memecahkan kebuntuan itu. Melintas dakwah tanpa batas,"pungkasnya. (*)

Penulis: Zul Indra
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help