Pekanbaru

Ada Siswa yang Butuh Penanganan, KPAI Pusat Bertemu Orangtua Siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru

Ada siswa yang butuh penanganan lebih serius, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat bertemu orangtua siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru

Ada Siswa yang Butuh Penanganan, KPAI Pusat Bertemu Orangtua Siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru
Ilustrasi 55 Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan Ternyata Perempuan. Ini Alasannya 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru: Rizky Armanda

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ada siswa yang butuh penanganan lebih serius, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat bertemu orangtua siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru.

Setelah melakukan pendalaman terhadap puluhan anak murid SMPN 18 Pekanbaru, pasca peristiwa sayat tangan yang dilakukan para siswa tersebut, pihak KPAI Pusat menggelar kegiatan pengarahan dengan orangtua siswa pada Sabtu (6/10/2018).

Kegiatan pengarahan yang diberikan kepada para orangtua murid ini mengambil tema sosialisasi Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Stop Bullying di Sekolah.

Baca: Hasil Liga Spanyol, Eibar dan Real Sociedad Menang, Klasemen Berubah, Real Sociedad Dekati Barcelona

Baca: UMN Temu Wicara dengan Para Siswa-Siswa SMA di Pekanbaru

Komisioner KPAI Pusat DR Sitti Hikmawatty saat diwawancarai Tribun menerangkan, sesuai hasil koordinasi dengan dinas terkait atas permasalahan ini, beberapa orang anak membutuhkan penanganan yang lebih serius.

Ada Siswa yang Butuh Penanganan, KPAI Pusat Bertemu Orangtua Siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru
Ada Siswa yang Butuh Penanganan, KPAI Pusat Bertemu Orangtua Siswa SMP Negeri 18 Pekanbaru (Tribun Pekanbaru/Rizky Armanda)

"Hasil assessment secara umum juga sudah disampaikan oleh lembaga psikologi ke pihak sekolah. Khusus KPAI sendiri, kita punya instrumen, kita melakukan pendalaman terhadap anak," ujar dia.

"Memang ada beberapa yang butuh penanganan lebih serius. Sudah kita tes secara psikologi juga, kemudian berkoordinasi dengan dinas setempat bagaimana cara mengatasinya," sambung Sitti.

Kata Sitti lagi, pihaknya melihat memang orangtua rajin untuk mengantar jemput anak ke sekolah.

Namun menurutnya, mengisi hati anak adalah yang lebih penting.

"Orangtua rajin mengantar jemput anak, tapi mengisi hati anak, itu yang utama. Jangan seolah-olah kebutuhan fisik terpenuhi kemudian selesai, tidak. Ini yang kita tekankan kepada orangtua," tegas dia.

Baca: 6 Meme Hoaks Ratna Sarumpaet: Muncul Istilah Hari Kapusan, Apa itu?

Baca: Tak Banyak yang Tahu, Meski Tak Laku, 3 Ponsel Jepang Ini Berteknologi Tinggi

Halaman
12
Penulis: Rizky Armanda
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved