Dua Wilayah Perairan di Indonesia ini Dinilai Rawan Pasar Gelap, 1 Tahun Negara Rugi Belasan Miliar

Dua Wilayah di Indonesia ini rawan pasar gelap (ilegal). Mengakibatkan negara rugi hingga belasan miliar

Dua Wilayah Perairan di Indonesia ini Dinilai Rawan Pasar Gelap, 1 Tahun Negara Rugi Belasan Miliar
Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Seorang personel Lanal Dumai mengawal tumpukan dus yang berisi minuman alkohol ilegal, Senin (13/8/2018). Minuman ini hasil tangkapan personel Lanal Dumai di Perairan Tembilahan. 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Ada dua wilayah di Indonesia yang disebut rawan perdagangan gelap (ilegal).

Kerawanan keduanya menyebabkan negara rugi hingga belasan miliar dalam satu tahun ini.

Dua wilayah tersebut  di perairan Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Baca: Google Luncurkan Pixel 3 dan Pixel 3 XL, Ini Harga dan Spesifikasinya

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Bagian Timur (Sumbagtim) M Aflah Farobi mengatakan, dua wilayah rawan perdagangan gelap berada di Kecamatan Sungsang, Kabupaten Banyuasin, serta Kecamatan Tungkal, Kota Jambi.

Aflah menjelaskan, pasar gelap yang digunakan pelaku berupa menyelundupkan barang dari luar Indonesia seperti tembakau iris dan minuman mengandung alkohol untuk menghindari cukai.

“Bahkan kerugian negara atas penyelundupan kedua barang itu mencapai Rp 14,88 miliar terhitung sejak awal tahun,” kata Aflah, Rabu (10/10/2018).

Baca: Perhatikan Gambar Ini, Apa yang Pertama Kamu Lihat Akan Menjelaskan Bagaimana Kamu Jatuh Cinta

Selain penyelundupan alkohol serta rokok, para pelaku juga sering kedapatan memasok narkoba dari jalur perairan seperti sabu.

Bahkan dari Januari-September 2018, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sumbagtim telah mengagalkan lebih dari 3 kilogram sabu dan 5.000 butir pil ekstasi dari dua wilayah perairan tersebut.

Baca: Tablet Google Pixel Slate Dibanderol Mulai Rp 9 Jutaan

“Para pelaku penyelundupan bisa masuk ke daerah tersebut karena penjagaan yang kurang ketat di perbatasan wilayah sehingga lolos dari pantuan petugas,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi banyaknya perdagangan gelap dari jalur sungai, Aflah akan memaksimalkan seluruh petugas dari Ditjen Bea dan Cukai wilayah masing-masing.

“Kami telah melakukan 495 kali penindakan di dua wilayah itu, untuk mencegah semakin banyaknya pasar gelap, petugas akan dimaksimalkan,” jelas dia.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wilayah Perairan Sumsel dan Jambi Dinilai Rawan Pasar Gelap",

Editor: Budi Rahmat
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved