Berita Riau

Keluarga Pasrah Mahmud Marzuki Belum Dianugerahi Pahlawan Nasional Tahun Ini

Keluarga Mahmud Marzuki pasrah jika Mahmud Marzuki belum dianugerahi titel Pahlawan Nasional pada tahun ini

Keluarga Pasrah Mahmud Marzuki Belum Dianugerahi Pahlawan Nasional Tahun Ini
Tribun Pekanbaru/Fernando Sihombing
Dua lukisan yang menggambarkan sikap heroik Mahmud Marzuki di Kampar 

Sampai akhirnya ke zaman kemerdekaan Indonesia yang pertama sekali sampai kabar itu di Bangkinang melalui Telegram pada 5 September 1945.

Setelah mendapat kabar itu, Mahmud memimpin Rapat Muhammadiyah di Muara Jalai untuk membahasi Proklamasi.

Rapat itu menyepakati pengibaran bendera Merah Putih pada 9 September.

Mahmud bertugas sebagai penggerek bendera dalam upacara pengibaran di Lapangan Merdeka, bekas Kantor Controleur Bangkinang. Pada Oktober 1945, terjadi tragedi yang dikenal dengan Durian Danau Bingkuang.

Tujuh tentara Jepang dibunuh oleh Pemuda Keamanan Rakyat.

Seminggu kemudian, sekitar 20 truk tentara Jepang dengan bersenjata lengkap menyerbu Bangkinang.

Baca: Walikota Dumai Akui Penanganan Banjir di Dumai Butuh Waktu

Baca: Narkoba Senilai Miliaran Dimusnahkan Polda Riau, Ini Jumlahnya

Saat itu, Mahmud memimpin Rapat Komite Nasional Indonesia yang diketuainya.

Tentara Jepang mengepung tempat diadakannya rapat.

Mahmud ditangkap bersama peserta rapat lainnya.

Kemudian diseret ke Lapangan Merdeka. Di situ, Mahmud dan temannya disiksa selama 23 hari.

Sampai akhirnya dia jatuh sakit.

Pada 5 Agustus 1946, Mahmud wafat di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Desa Kumantan yang didirikannya. (*)

Penulis: Fernando Sihombing
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved