Kampar

Jalur Interpretasi SM Rimbang Baling Kampar Kiri Hulu Sudah Dimulai di 4 Desa

Jalur Interpretasi membentang di Kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling Kecamatan Kampar Kiri Hulu yang melewati sembilan desa.

Jalur Interpretasi SM Rimbang Baling Kampar Kiri Hulu Sudah Dimulai di 4 Desa
Tribunpekanbaru/nando
Petugas mengukur lokasi bakal Jalur Interpretasi di Kecamatan Kampar Kiri Hulu Mei 2018 lalu. 

Laporan Wartawan tribunpekanbaru.com Fernando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Pembangunan jalur interpretasi sudah dimulai tahun ini. Jalur Interpretasi membentang di Kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling Kecamatan Kampar Kiri Hulu yang melewati sembilan desa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kampar, Febrinaldi Tridarmawan mengungkapkan, pengerjaan jalur interpretasi dimulai oleh empat desa. Terdiri dari, Batu Sanggan, Terusan, Subayang Jaya dan Muara Bio.

"Dari APBDes murni (tahun 2018), sudah teralisasi 900 meter," ungkap Febri, Selasa (13/11/2018). Realisasi sepanjang 900 meter itu total di empat desa. Pada APBDes Perubahan, belum ada progres.

Baca: Sekda Dorong Kontraktor Selesaikan Proyek Strategis Pemprov Riau Sesuai Target

Menurut Febri, realisasi tahun 2018 akan bertambah melalui APBDes Perubahan 2018. Sebagian desa mengusulkan pembiayaan pada APBDes perubahan. Ia belum bisa menyebutkan desa-desa yang mengalokasikannya dalam APBDes.

"Ada desa yang mengajukan di APBDes. Sekarang lagi disusun," ujar Febri. Ia menyebutkan, tiap desa mangalokasikan Rp. 100 juta sampai Rp. 400 juta per tahun. Anggaran bersumber dari Dana Desa (DD).

Capaian realisasi masih jauh sangat kecil. Jalur interpretasi dirancang membentang di sepanjang 36,06 kilometer dengan lebar 1,5 meter. Pengerjaannya telah disetujui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas usulan Pemerintah Kabupaten Kampar.

Baca: Keluarga Nainggolan Ditemukan Tewas di Bekasi, Dua Anaknya Ikut Jadi Korban

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kampar, Azwan beberapa waktu lalu memang menyebutkan, jalur interpretasi dari Dana Desa ditargetkan rampung dengan empat tahun anggaran.

Adapun sembilan desa yang dilalui jalur interpretasi yakni, Tanjung Belit, Muara Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Subayang Jaya dan Pangkalan Serai. Jalur ini dimaksudkan untuk membuka akses ke sembilan desa yang selama ini terisolir.

Jalur interpretasi merupakan solusi membuka akses tanpa terbentur aturan tentang kawasan hutan. Jalur ini juga difungsikan untuk kegiatan konservasi hutan. (*)

Penulis: Fernando Sihombing
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved