Properti

Terpengaruh Naiknya Suku Bunga Acuan BI, Ketua REI Riau Sebut Sektor Properti Alami Pelemahan

Bank yang melayani kredit produk properti kembali harus menyesuaikan bunga kreditnya karena BI kembali menaikkan suku bunga acuan

Terpengaruh Naiknya Suku Bunga Acuan BI, Ketua REI Riau Sebut Sektor Properti Alami Pelemahan
Internet
Sektor properti merupakan salah satu dari beberapa lini bisnis yang terpengaruh langsung atas putusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7 days reverse repo rate atau suku bunga acuan. Foto: Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sektor properti merupakan salah satu dari beberapa lini bisnis yang terpengaruh langsung atas putusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7 days reverse repo rate atau suku bunga acuan.

Sekarang ini, bank yang melayani kredit produk properti kembali harus menyesuaikan bunga kreditnya karena BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point menjadi 6 persen.

Baca: Asus Zenfone Max Pro M2 Dibekali 3 Kamera, Dirilis Pada 11 Desember 2018, Ini Spesifikasinya

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Riau, Syafri Tanjung pada Rabu (21/11/2018), turut menanggapi hal tersebut. Menurutnya secara usaha sektor properti pastinya mendapatkan pengaruh.

"Jika nilai pinjaman besar lumayan terasa bagi yang nasabah atau pembeli produk properti, karena bunga kredit nilainya juga akan semakin besar," ungkap Syafri.

Ia menyebut, setiap kali BI menaikkan suku bunga acuan, daya beli masyarakat khususnya properti jenis komersil bakal semakin melemah. Masyarakat akan merasa cukup keberatan karena nilai uang yang harus dibayarkan pada kredit properti mereka juga semakin bertambah.

Selama tahun 2018 saja diakuinya, realisasi produk properti dari pengembang terhadap masyarakat juga terasa menurun dibanding tahun 2017 yang lalu.

"Memang kita akui ada penurunan realisasi produk. Tapi tidak begitu terasa karena kan BI selama 2018 menaikkan suku bunga acuan secara bertahap. kalau terasa ya terasa, tapi tidak begitu terasa sekali karena bertahap tersebut," ungkapnya.

Baca: Pramugari Menyusui Bayi Penumpang yang Kelaparan di Atas Pesawat, Kisahnya Viral

Walau bagaimanapun, pengembang tak mungkin berhenti menyalurkan produk propertinya di tengah suku bunga acuan yang semakin tinggi.

Cuma kata Syafri, mungkin akan sedikit tersendat karena sebagian konsumen lebih memilih bertahan dan lebih mengutamakan kebutuhan primer terlebih dahulu.

"Mungkin konsumen lebih memilih memenuhi kebutuhan seperti biaya pendidikan, makan dan lain-lain," ucapnya.

Disinggung terkait persentase penurunan realisasi produk properti selama tahun 2018 dikaitkan dengan lengkah BI yang telah menaikkan suku bunga acuan secara berkala selama tahun 2018, Syafri menyebut dirinya belum bisa membeberkan.

Baca: Video: Live Streaming Filipina Vs Thailand Grup B Piala AFF 2018, Indonesia Tersingkir Jika Imbang

Karena ini belum dilakukan pengukuran dan memerlukan analisasi yang lebih lanjut untuk bisa menentukan persentase penurunannnya.

"Saya belum berani bicara ini, kita belum ukur seberapa jauh turunnya," tandas Syafri. (*)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved