Aliansi Organisasi Mahasiswa dan Komunitas Pekanbaru Nobar dan Diskusi Hukum Salah Alamat

Kegiatan ini dimulai dengan menonton bareng program Catatan Najwa yang ditayangkan langsung di Televisi bertajuk Hukum Salah Alamat.

Aliansi Organisasi Mahasiswa dan Komunitas Pekanbaru Nobar dan Diskusi Hukum Salah Alamat
Tribunpekanbaru/teddytarigan
Aliansi Organisasi Mahasiswa dan Komunitas di Pekanbaru mengadakan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi yang bertajuk "Hukum Salah Alamat" di Warung Six, Rabu (21/11/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Teddy Tarigan

TRIBUN PEKANBARU.COM, PEKANBARU - Aliansi Organisasi Mahasiswa dan komunitas di Pekanbaru mengadakan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi yang bertajuk "Hukum Salah Alamat" di Warung Six, Rabu (21/11/2018) malam.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah elemen organisasi mahasiswa, komunitas dan lembaga yang ada di Pekanbaru, diantaranya Front Mahasiswa Nasional (FMN) Pekanbaru, Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Pekanbaru, PK IMM Buya Hamka, Pekanbaru Smart Community (PASTY), Himatif USR, BEM FST USR, dan sejumlah mahasiswa dan aktivis lainnya.

Adapun kegiatan ini dimulai dengan menonton bareng program Catatan Najwa yang ditayangkan langsung di Televisi bertajuk Hukum Salah Alamat.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama.

Ririn dari Seruni mengatakan Riau menempati urutan kedua tertinggi kekerasan terhadap anak di tahun 2017.

"Riau menjadi salah satu tempat yang menempati urutan tertinggi akan kekerasan terhadap anak, menurut catatan kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (Kemen PPPA)," ungkap Ririn

Baca: Pemko Pekanbaru Deadline Lagi PKL Teratai Segera Pindah, Anggota Dewan Nilai Pemko Tak Serius

Baca: BKKBN Riau Dapat DAK Sub Bidang KB Rp 55 Miliar

Ririn juga mengatakan, ada 107 kasus kekerasan kepada anak terjadi pada tahun 2017, ini menurut catatan dari P2TP2 kota Pekanbaru dan ada 72 kasus kejahatan seksual terhadap anak pada tahun 2017, menurut data dari LBH Pekanbaru.

Selain membahas kekerasan seksual terhadap perempuan hal yang menjadi sorotan ialah tentang pasal karet UU ITE yang saat ini sangat banyak memakan korban.

Kasus terbaru yang diungkapkannya adalah kasus yang menimpa ibu Nuril dan Anindya Shabrina, dimana dirinya menilai mereka seharusnya menjadi korban dari pelecehan itu sendiri.

Andy dari LBH Pekanbaru menambahkan, dalam UU ITE pasal-pasal yang berbahaya bagi kita semua terdapat pada pasal 27 ayat 1 dan 3, dan kemudian pasal 28.

"Pasal-pasal ini ialah pasal karet, yang begitu banyak menyeret korban yang menjadi tersangka, bukannya membuat efek jera terhadap hukum, pasal ini banyak disalahgunakan yang berdampak ketidakadilan kepada korban yang dapat dibalikkan oleh pelaku utk juga berbalik menjerat si korban, dan yang paling terbaru ialah kasus Ibu Nuril dan Annin" tambah Andy.

Baca: OMBAK BONO, Para Peselancar Mancanegara dan Domestik Tiba di Teluk Meranti, Meriahkan Bono Surfing

Baca: Ombak Bono 2018 di Pelalawan Sedang Berlangsung, Ini Fakta Gelombang Tujuh Hantu/Seven Ghost Itu

Kegiatan yang berlangsung di warung six ini juga diwarnai dengan musikalisasi dari komunitas Proyek tanpa kepentingan serta lagu-lagu yang dibawakan oleh Ririn dari Seruni yang menggambarkan perjuangan dan kritikan masyarakat terhadap ketidakadilan yang ada di negeri ini.

Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama, dan mengagendakan diskusi bersama kembali dalam waktu dekat, terkhusus untuk mengkampanyekan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang akan dimulai sejak tanggal 25 November sampai 10 Desember.(*)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: Afrizal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved