Harga Sawit Kian Anjlok, Pengamat Ekonomi Riau Ini Sarankan Petani Pindah ke Tanaman Aren

Kondisi harga kelapa sawit saat in tidak menguntungkan bagi para pekebun, terutama yang bertani secara swadaya.

Harga Sawit Kian Anjlok, Pengamat Ekonomi Riau Ini Sarankan Petani Pindah ke Tanaman Aren
kabarsawit.files.wordpress.com
Ilustrasi - Kelapa Sawit 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kondisi harga kelapa sawit saat in tidak menguntungkan bagi para pekebun, terutama yang bertani secara swadaya.

Di tingkat petani plasma, perusahaan perkebunan, atau pun petani mitra binaan perusahaan, khusus untuk harganya Tandan Buah Segar (TBS) bisa dibilang lebih menguntungkan, sekitar Rp.1.200 perkilogram, sedangkan ditingkat petani swadaya hanya dihargai Rp.400 sampai dengan Rp.600 oleh pengepul.

Seperti beberapa waktu lalu, pantauan Tribun di Kabupaten Indragiri Hulu, serta rokan hulu, harga sawit di tingkat petani swadaya berkisar di angka Rp 600 sampai dengan Rp 800 untuk penjualan ke RAM Sawit atau pengepul.

Baca: Kapolda Riau Sebut Pelaku Perusakan Atribut Partai di Pekanbaru Diupah Rp 150 Ribu

Terkait hal ini, Pengamat Ekonomi Universitas Riau (UR), Edyanus Herman Halim SE MS, saat dimintai tanggapannya pada Senin (17/12/2018) mengatakan, anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau disebabkan oleh struktur pasar yang selama ini digunakan di bidang perkebunan.

Petani swadaya tidak bisa menentukan harga sesukanya karena harga jual ditetapkan langsung oleh pengepul atau pembeli. Maksudnya, pengepul tidak mamakai harga yang telah ditetapkan secara resmi, namun menggunakan harga yang jauh lebih rendah dari harga yang telah ditetapkan tersebut. Mengingat mereka mempertimbangkan kualitas buah, transportasi dan lain sebagainya.

"Alasan lainnya anjloknya harga TBS ini karena pembelinya (pengepulnya) sedikit, sedangkan penjualnya banyak," jelas Edyanus.

Ia menuturkan, penyebab berikutnya juga dikarenakan kurang memadainya infrastuktur yang dimiliki daerah sehingga menghambat dalam pendistribusian TBS.

Pemerintah harus menyediakan infrastruktur yang lebih memadai agar arus barang dapat didistribusikan secara lancar.

Kemudian membuat aturan tataniaga yang sama-sama berpihak terhadap semua sektor, atau tidak hanya dinikmati oleh pedagang besar atau para eksportir CPO saja.

Halaman
12
Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved