Berita Riau

VIDEO: Sejumlah Warga Gelar Aksi Tolak Pentas Lumba-lumba di Pekanbaru, Pengelola: Kita Punya Izin

Dalam aksinya, belasan Massa tersebut membawa spanduk yang isinya mengecam eksploitasi terhadap satwa.

Laporan Theo Rizky

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sejumlah masyarakat pecinta satwa menggelar aksi menolak pertunjukan pentas lumba-lumba dan aneka satwa di depan kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru, tak jauh dari arena tempat berlangsungnya pertunjukan, Minggu (13/1/2019) sore.

Dalam aksinya, belasan Massa tersebut membawa spanduk yang isinya mengecam eksploitasi terhadap satwa. 

Menurut koordinator aksi, Ridho Illahi, kegiatan tersebut merupakan edukasi agar masyarakat tidak ikut serta mendukung ekploitasi hewan.

"Kedepannya semoga tidak ada lagi sirkus satwa karena negara Indonesia adalah negara terakhir yang menggunakan sirkus satwa," ujar Ridho  

Senada, pesarta aksi bernama Violetta Hasan Noor menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bagian untuk mengajak masyarakat di Pekanbaru supaya tidak terlibat mengikuti pertunjukan lumba-lumba.

BACA JUGA:

Kasihan, Lumba-lumba Ini Mati Lemas Gara-gara Mulutnya Tertutup Sampah Plastik

3 Fenomena Aneh Terjadi di Dunia Binatang, Lumba-lumba Tersedak Gurita Hingga Bunglon Menyala

Walhi Sewot dan Tolak Atraksi Lumba-lumba Dipertontonkan

Lagi! Gara-gara Para Wisatawan Rebutan Selfie, Bayi Lumba-lumba Ini Mati

Perut Membesar, DJ Katty Butterfly Umumkan Kehamilan Lewat Instagram

"karena mereka tidak tahu bagaimana lumba-lumba dilatih yang intinya adalah ekploitasi, pada pinsipnya kami masyarakat riau yang mencintai satwa tidak akan berhenti menyuarakan ini sampai benar-benar tidak ada lagi eksploitasi terhadap lumba-lumba maupun hewan lainnya," ujar wanita yang akrab disapa Vivi tersebut.

Dijelaskannya, salah satu cara yang tepat untuk menghentikan eksploitasi ini adalah mengedukasi masyarakat.

"seperti yang akan dilakukan pada Jumat depan, kita akan ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi murid-murid, mengajari apa sih sebenarnya latar belakang sirkus lumba-lumba itu, bagaimana mereka diperlakukan, bahwa pertunjukan membuat mereka stres, dan banyak yang tidak tahu bagaimana proses lumba-lumba sampai ke sirkus itu, bagaimana cara mereka membawanya dengan kondisi yang sangat sempit," ujarnya.

Masih menurut Vivi, lumba-lumba yang diekploitasi melalui sirkus tidak akan bisa berumur panjang.

"misalnya dalam lautan bebas bisa hidup sampai 40 tahun, tapi kalau disini bisa hidup  lima sampai enam tahun, dan bahkan ada penelitian di negara lain, ada beberapa lumba-luba yang bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi ini," kata Vivi.

Sementara itu, Manager Operasional pertunjukan pentas lumba-lumba dan aneka satwa, Tommy Alfredo merespon aksi Damai itu dengan positif, menurutnya, dimanapun pihaknya mengadakan pertunjukan, baik di kota-kota besar maupun daerah lainnya, selalu ada yang namanya pro dan kontra. 

BACA BERITA LAINNYA:

Andini Gadis 14 Tahun Seorang Diri Rawat 2 Adiknya, Kini Mereka Harus Dilarikan ke RSUD Pelalawan

Sepanjang 2018, Inilah 5 Foto dengan Like Terbanyak di Instagram Indonesia

Transfer Pemain Liga 1: Jadi Pelatih Bali United, Berikut Perjalanan Karir Stefano Cugurra (Teco)

Selain Irish Bella & Amar Zoni, Inilah 4 Artis yang Terlibat Cinlok Hingga Berakhir di Pelaminan

"Tapi dilihat dari segi positif saja, dalam artian, kita itu legal, izin semuanya ada, terus eksploitasi, itu yang dimaksud eksploitasi seperti apa? kita penyayang  binatang, lumba-lumba kita kasi makan, kita ada dokter hewannya, kemudian dari segi kesehatan kita selalu sangat memperhatikan sekali dengan ikan-ikan yang segar," ujar Tommy.

Seperti diketahui, sebuah pertunjukan pentas lumba-lumba dan aneka satwa digelar di kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru.

Pentas yang digelar dari tanggal 12 Januari hingga 17 Februari 2019 tersebut tiketnya dijual  dengan harga Rp 50 ribu untuk umum dan Rp 75 ribu untuk VIP.

Bukan hanya lumba-lumba, pertunjukan itu juga diisi dengan satwa beruang, berang-berang, burung kakak tua dan satwa lainnya.

Penulis: TheoRizky
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved