Indonesia Barokah dan Say No Jokowi-Ma'aruf Amin Bentuk Kampanye Hitam. Bawaslu Cari Pelakunya

Fritz mengatakan, temuan tersebut menjadi tugas bersama penyelenggara pemilu dan masyarakat untuk mengawas dugaan kampanye hitam.

Indonesia Barokah dan Say No Jokowi-Ma'aruf Amin Bentuk Kampanye Hitam. Bawaslu Cari Pelakunya
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Tabloid Indonesia Barokah yang isinya memojokkan pasangan calon Presiden Wakil Presiden Nomor Urut 02. 

JAKARTA,TRIBUN-Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI sedang melakukan upaya penelusuran terhadap pelaku penyebaran dugaan politik hitam.

Anggota Bawaslu RI, Fritz Edward Siregar mengatakan, pihaknya menanggapi beredarnya Tabloid Indonesia Barokah yang dinilai merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Selain itu Bawaslu juga melakukan proses yang sama untuk mencari pelaku penyebar selebaran bertuliskan, "Say No!! Jokowi-Ma'ruf Amin".

"Untuk melanjutkan proses hukum, kita harus temukan dulu siapa pelakunya. Penegakan hukum pemilu itu harus ada bukti materilnya," ujar Fritz dalam diskusi bertajuk "Hantu Kampanye Hitam" di Jakarta, Sabtu (26/1/2019).

Fritz mengatakan, temuan tersebut menjadi tugas bersama penyelenggara pemilu dan masyarakat untuk mengawas dugaan kampanye hitam.

"Kami terus melakukan patroli agar peristiwa ini tidak berulang kembali. Namun, kita semua harus menyebarkan kabar positif juga agar kampanye hitam tidak masif," ujarnya.

Terpisah, anggota Bidang Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Habiburokhman mengatakan, pihaknya sudah melaporkan peredaran Tabloid Indonesia Barokah ke Bawaslu dan Dewan Pers.

"Kasus ini, kan, di luar kekuasaan kami. BPN hanya bisa melapor dan menunggu, jadi jangan berlarut-larut, nanti pelakunya enggak tertangkap," ujarnya.

Dia menyebut tabloid itu sudah tersebar merata di banyak kabupaten di Indonesia.

Sementara, anggota bidang hukum Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ruhut Sitompul mengatakan, Tabloid Indonesia Barokah memiliki isi yang bertujuan menyampaikan fakta. "Fakta yang disampaikan tabloid itu meluruskan.

Siapa pun yang ingin menyampaikan fakta, the show must go on," ucap Ruhut.

Ia meminta agar persoalan nini dilaporkan ke aparat penegak hukum, dan lembaga pengawas pemilu.

"Ini negara hukum, biarkan Bawaslu yang bekerja. Kita juga punya polisi sebagai aparat penegak hukum. Kami dari TKN belum melaporkan ke pihak yang berwajib karena harus diketahui dulu siapa pelakunya," ujarnya.

Editor: Ilham Yafiz
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved