Kepulauan Meranti

Pawai Cue Lak Semarakkan Selatpanjang Perayaan Imlek ke-6

Perayaan Imlek sepeti tahun-tahun sebelumnya memang selalu berlangsung meriah di Kota Sagu ini.

Pawai Cue Lak Semarakkan Selatpanjang Perayaan Imlek ke-6
Istimewa
Pawai Cue Lak di hari ke-6 perayaan Tahun Baru Imlek di Selatpanjang, Minggu (10/2/2019). 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru Teddy Tarigan

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Perayaan Tahun Baru Imlek di Selatpanjang, Kepulauan Meranti berlangsung Meriah pada Minggu (10/2/2019).

Perayaan Imlek sepeti tahun-tahun sebelumnya memang selalu berlangsung meriah di Kota Sagu ini.

Hari keenam ini menjadi hari imlek paling meriah di Selatpanjang, karena ada pawai Cue Lak

Dalam pawai Cue Lak ini dilaksanakan arak-arakan tiga dewa, yakni Cho Se Kong, Tian Tho Wan Sue dan Lie Loh Chia.

Baca: Beredar Bocoran Samsung Galaxy M30, Dibekali 3 Kamera Belakang, Layar Model Infinity-V

Para dewa ini ditandu beramai-ramai dan singgah di 24 kelenteng untuk sembahyang bersama sai kong atau imam kelenteng sekitar 15 menit.

Selain itu ada juga arak arakan Barongsai, Reog Ponorogo, tarian naga, dan juga ratusan anak anak yang memakai pakaian adat lengkap dengan berbagai bentuk.

Jalan jalan protokol di Kota Selatpanjang dipenuhi dengan lautan manusia yang mengikuti pawai ritual tersebut atau bahkan ada yang hanya menyaksikan saja

"Arak-arakan itu pagi. Star dan finishnya di Kelenteng Sejahtera Sakti," jelas Ketua panitia pawai Dewa Cho Se Kong 2570/2019, Tjuan An Minggu (10/2/2019).

Lebih lanjut dikatakan Tjuan An, untuk sistem keamanan yang diterapkan, mereka mempersiapkan mobil Ambulance dilengkapi dengan oksigen serta perawat. Selain itu ada mobil Pemadam Kebakaran dan lengkap dengan Racun apinya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diingini.

Selain memiliki makna budaya reliji, perayaan imlek di Kota Selatpanjang menjadi iven spesial dan selalu ditunggu. Baik oleh warga tionghoa, pribumi maupun dari luar negeri yang sekedar berkunjung ataupun pulang kampung.

Dipilihnya Kota Selatpanjang sebagai tujuan wisata tahun baru masyarakat Toonghoa tentunya bukan tanpa alasan. Kabupaten berjuluk Kota Sagu ini memang memiliki nilai historis bagi warga keturunan.

Baca: Ikuti Pemilihan Putri Indonesia 2019, Sabrina Anggraini Siap Bawa Banyak Hal Tentang Riau

Dari iniformasi yang dirangkum Tribunpekanbaru.com, Selatpanjang dulunya dikenal dengan Pulau Tebingtinggi menjadi tempat terdampar dan pengungsian nenek moyang masyarakat Tionghoa saat lari dari pemerintahan komunis cina pertengahan abad 19 atau sekitar tanun 1850.

Saat itu pula ada dua dewa yang sempat dibawa agar tidak dihancurkan komunis, yakni Dewa Cho Se Kong dan Tua Pek Kong. Kini patung dua dewa yang memilki arti khusus bagi warga Tionghoa Meranti itu bersemayam di kelenteng tertua Selatpanjang, Vihara Sejahtera Sakti, Jalan Ahmad Yani Selatpanjang dan akan diarak berkeliling kota setiap tahunnya saat hari keenam imlek. (*)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved