Pesta Tuak Berakhir dengan Perkelahian Maut di Tembilahan

Sekelompok pemuda yang pesta tuak, berakhir dengan perkelahian yang menyebabkan tewasnya seorang dari mereka.

Pesta Tuak Berakhir dengan Perkelahian Maut di Tembilahan
tribun pekanbaru
Kasat Reskrim Polres Inhil, AKP Indra Lamhot Sihombing, memperlihatkan tersangka ZH dan barang bukti sebilah pisau, Kamis (28/2) lalu. 

tribunpekanbaru.com - ZH (20) dari balik sebo yang hanya memperlihatkan mulut dan kedua matanya, tampak tegar. Dia dihadirkan saat press release di Polres Inhil, Kamis (28/2) pagi lalu.

Di kawal dua polisi di kedua sisi, ZH sesekali menundukkan kepala dan menjawab pertanyaan yang di lontarkan awak media, maupun Kasat Reskrim Polres Inhil, AKP Indra Lamhot Sihombing, yang memimpin acara tersebut.

ZH dihadirkan sebagai tersangka tindak pidana penganiayaan berat, yang dilakukannya terhadap Gustian Nanda (17), di Jalan Guru Hasan (Lr Garam), Tembilahan, Kabupaten Inhil, Sabtu (16/2) lalu sekitar pukul 03.30 WIB.

Gustian Nanda akhirnya menghembuskan nafas terakhir meskipun sempat dibawa ke RS Puri Husada Tembilahan. ZH sendiri menyerahkan diri ke pihak Kepolisian tidak lama setelah melakukan aksinya, atau sekitar pukul 05.00 WIB.

Indra Lamhot Sihombing menuturkan, kasus ini menjadi atensi pihak karena menyebabkan korban meninggal dunia, serta adanya itikad baik tersangka yang menyerahkan diri, sehingga bisa mempercepat proses penyidikan.

“Kasus ini juga jadi perhatian masyarakat karena menyebabkan korban meninggal dunia. Kita akui tersangka punya itikad baik dengan menyerahkan diri. Ini jadi pertimbangan kita, tapi hukum harus tetap ditegakkan,” ungkap Kasat didampingi jajaran dan Kasubag Humas Polres Inhil, AKP Syafri Joni.

Lebih lanjut diterangkan, ZH dijerat pasal 338 junto 354 ayat (2) KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan berat yang mengakibatkan korban meninggal, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

“Itu pidana murni, berkasnya sudah tahap satu, dalam waktu dekat diserahkan kepada Kejaksaan,” tutur Indra.

Diterangkan, peristiwa itu berawal ketika tersangka bersama korban dan teman-temannya pesta tuak. Mereka antara lain M Riko Ramadhan alias Acin, Rendi Riandy dan Santo Eko Putra alias Eko. Pesta tuak itu dilakukan di sebuah ruko di Jalan Guru Hasan, Jumat (15/2) lalu sekitar pukul 22.00 WIB.

Di bawah pengaruh minuman keras tradisional itu, tiba–tiba Acin dan Rendi berdiri dan siap berkelahi. Korban yang teman dekat Rendi juga ikut berdiri, begitu pula tersangka yang teman dekat Acin.

Saat Acin dan Rendi saling dorong, korban menepis tangannya dan mengenai kepala tersangka sehingga keduanya juga terlibat perkelahian. Sedangkan Acin dan rendi meninggalkan TKP karena saling serang dan saling kejar antara keduanya dan diikuti Eko, sehingga di TKP hanya ada korban dan tersangka.

Saat itu, tersangka mencabut sebilah pisau yang memang dibawa dan menusuk korban di bagian perut satu kali. Setelah itu tersangka menyimpan pisau dan perkelahian berlanjut dengan tangan kosong. Namun korban terus melawan, tersangka pun kembali mengeluarkan pisau dan menusuk dada kiri korban yang makin lemah, dan akhirnya tersandar di tubuh tersangka.

Dalam kondisi itu perkelahian tetap berlangsung, sehingga tersangka kembali menusukkan pisau ke dada kanan korban yang langsung membuat korban jatuh terkapar.

Melihat itu, tersangka mencari Acin dan kembali mendatangi TKP. Keduanya bersama Eko lalu membawa korban ke RS Puri Husada Tembilahan. Namun pihak RS menyatakan korban telah meninggal dunia.

“Intinya karena minuman keras tuak. Walaupun di luar kesadaran, tidak menjadi pengurangan hukuman dari pasal tersebut,” terang Kasat Rekrim lagi. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved