Pelalawan

Bawa Bekal untuk Tiga Hari, Seratus Petugas Menginap di Lokasi Karhutla Teluk Meranti

Sekitar seratus petugas dari berbagai instansi dikirim ke Desa Pangkalan Terap dan Kuala Panduk. Ratusan petugas tersebut dikirimkan terkait karhutla.

Bawa Bekal untuk Tiga Hari, Seratus Petugas Menginap di Lokasi Karhutla Teluk Meranti
Istimewa
Helikopter sedang melakukan pemadaman karhutla dengan water bombing di wilayah Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan 

TRIBUNPELALAWAN.COM, PANGKALANKERINCI - Sekitar seratus petugas dari berbagai instansi dikirimkan ke Desa Pangkalan Terap dan Kuala Panduk. Ratusan petugas tersebut dikirimkan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dua desa tersebut jadi perhatian karena kebakaran yang terus meluas sehingga harus minta bantuan helikopter untuk water bombing.

"Ada seratus petugas yang sudah dikirimkan ke lokasi kebakaran di Teluk Meranti," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan Hadi Penandio, Selasa (5/3).

Seratus petugas tersebut terdiri dari tim BPBD Pelalawan, Dinas Perkebunan, Damkar dan anggota Polres Pelalawan. Walau saat ini sedang proses pendinginan di dua desa tersebut, petugas tetap dibutuhkan di lapangan.

Selain bantuan dari helikopter, seratus petugas tersebut akan membantu melokalisir kebakaran agar tidak meluas. Sebab, lahan yang terbakar merupakan lahan gambut.

"Petugas kita akan menginap di lokasi. Saya sudah minta bawa bekal untuk tiga hari," ujarnya.

Lokasi kebakaran di dua desa tersebut memang sangat susah aksesnya. Menuju lokasi hanya bisa dengan berjalan kaki.

"Makanya tim akan nginap. Mungkin akan ganti shift nantinya. Efektif juga dari udara lewat helikopter," ujarnya.

Hasil analisis BMKG Pekanbaru, Selasa, tidak ada hotspot di Pelalawan. Walau tidak ada hotspot, helikopter untuk water bombing tetap bekerja di Desa Pangkalan Terap dan Kuala Panduk.

"Kita masih minta bantuan helikopter untuk water bombing dari Satgas Udara Provinsi Riau Lanud RSN," kata Hadi Penandio.

Helikopter yang bekerja hanya satu unit. Sejak Senin lalu (4/3), helikopter tersebut bekerja di Teluk Meranti, Pelalawan.

Dikatakannya titik api memang sudah tidak terlihat di Teluk Meranti. Sehingga tidak terlihat citra satelit. Namun, katanya, lahan di dua desa tersebut masih mengeluarkan asap.

Permintaan helikopter water bombing ini dilakukan untung pemadaman serta penyekatan agar titik api yang berada di bawah gambut meluas. Bila meluas, saat semuanya kering, kebakaran hebat akan terjadi.

Pendinginan dan mengisolir api harus dilakukan. Pihaknya takut seperti kejadian di beberapa titik api sebelumnya dimanfaatkan sudah padam namun api muncul lagi.

"Ini yang kita antisipasi makanya kita minta helikopter untuk water bombing," ujarnya. (Tribunpelalawan.com/palti siahaan)

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved