Laris di Negeri Jiran, Kopi Liberika Asal Meranti Malah Sepi di Negeri Sendiri

Setiap tahun, sekitar 90 persen kopi asli Kepulauan Meranti ini diekspor ke Malaysia. Hanya 10 persen saja untuk pasar lokal.

Laris di Negeri Jiran, Kopi Liberika Asal Meranti Malah Sepi di Negeri Sendiri
Istimewa
Kopi Liberika merupakan salah satu komoditi unggulan dari kabupaten Kepulauan Meranti. 

tribunpekanbaru.com - Peminat kopi Liberika Meranti kian meningkat setiap tahunnya. Ketua Kelompok Indikasi Geografis (IG) Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM), Abdul Hakim, mengatakan, penjualan kopi Liberika Meranti bahkan sudah menembus pasar Malaysia sejak 1980 silam.

Hal itu dipengaruhi letak geografis Kecamatan Rangsang dengan Batu Pahat, wilayah distrik negara bagian barat Johor, Malaysia, yang cenderung dekat melalui Selat Malaka. “Ke Malaysia bisa 2 jam. Cenderung lebih mudah ketimbang menuju Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, yang menghabiskan waktu hampir setengah hari perjalanan," kata Hakim, Rabu (13/3).

Dikatakan, harga beli untuk pasar Malaysia saat ini fluktuatif, namun cukup tinggi. Hanya saja, para pedagang besar yang membawa kopi Liberika ke Malaysia umumnya tidak menyortir kopi yang dipanen petani, seperti buah ukuran besar, kecil, atau tidak sengaja tercampur buah mentah.

“Semua diangkut tanpa disortir. Yang dijual ke Malaysia itu bukan standar Indikasi Geografis (IG), harganya hanya Rp45 per kilo. Jika standar IG harganya bisa Rp100 ribu," ungkap Hakim.

Menurutnya, 90 persen kopi Liberika Meranti ditampung pasar Malaysia, hanya 10 persen saja di pasar lokal. Pada 2016 lalu, ekspor kopi Liberika ke Malaysia mencapai 71 ton dalam bentuk green bean atau setara 800 ton buah segar.

"Pengiriman melalui kapal lintas batas. Dalam satu tahun kita kirim dua kali, itupun tergantung musim panen. Sekarang hasil panen turun karena intrusi air laut, tahun 2018 hanya 45 ton," katanya.

Abdul Hakim menceritakan, Balai Penelitian Tanaman Industri (Balitri) Kementerian Pertanian, pernah meminta petani kopi Liberika Meranti untuk memasok kopi ke luar negeri 200 ton per bulan. Namun tidak sanggup.

Menurutnya, untuk memenuhi permintaan tersebut, luas kebun kopi di Meranti harus 20.000 hektare. Sedangkan saat ini luas kebun kopi hanya 1.500 hektare.

Meski ramai di pasaran Negeri Jiran, namun peminat kopi Liberika Meranti masih sepi di negeri sendiri. Butuh perjuangan panjang mempromosikan kopi asli Meranti itu, dan tentu butuh dukungan instansi terkait.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkopukm) Meranti, Mohammad Aza Fahroni, mengatakan, terkait pemasaran kopi tersebut pihaknya akan berkoordinasi lebih dulu dengan MPKLRM.

"Mereka belum melapor ke dinas. Tapi nanti kita koordinasi dengan mereka dan mengimbau untuk mengurus SKA," ungkap Aza.

Dijelaskan, pihaknya akan membantu mengembangkan kopi melalui Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM). "Kita akan kembangkan dan bantu meningkatkan kualitas kopi. Dari segi kualitas masih kurang, makanya tahun ini kita bantu mesin sortir," ungkap Azza. (tedi)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved