Kampar

Mantan Kades di Kampar Riau Ini Sebut Wajar Warga Koto Aman Tuntut Hak, Ungkap Kejanggalan HGU

Mantan Kepala Desa Kota Baru Kecamatan Tapung Hilir, Jonter Sihombing angkat bicara atas konflik antara warga Desa Koto Aman.

Mantan Kades di Kampar Riau Ini Sebut Wajar Warga Koto Aman Tuntut Hak, Ungkap Kejanggalan HGU
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Ratusan warga dari Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kampar menggelar unjuk rasa di depan pintu masuk kantor DPRD Riau, Jalan Sudirman Pekanbaru, Senin (11/3/2019). (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

Mantan Kades di Kampar Riau Ini Sebut Wajar Warga Koto Aman Tuntut Hak, Ungkap Kejanggalan HGU

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Mantan Kepala Desa Kota Baru Kecamatan Tapung Hilir, Jonter Sihombing angkat bicara atas konflik antara warga Desa Koto Aman dengan PT. Sekarbumi Alamlestari.

Ia menyebut wajar warga berjuang menuntut hak mereka yang diduga telah dirampas.

Menurut Jonter, konflik ini merupakan buntut dari arogansi perusahaan kala mulai menguasai lahan di Tapung Hilir. Ia mengungkap banyak kejanggalan dalam proses pengalihan dari Tanah Ulayat masyarakat adat menjadi lahan perkebunan.

"Jadi kalau PT. SBAL itu memang bersengkata dengan semua desa sempadannya. Bahkan dengan perusahaan sekelas Chevron juga, dia konflik," ungkap Jonter di Pekanbaru, Rabu (13/3/2019) pagi.

Baca: Konflik Lahan Desa Koto Aman, Gubri Syamsuar Sebut Solusi Terakhirnya Adalah Pengadilan

Kepala Desa Kota Baru tahun 2007 ini menyebutkan, dengan Chevron, SBAL menanami Kelapa Sawit di areal Power Line dan Pipe Line. Bahkan Chevron telah memasang pagar pembatas (boundaries) di dalam areal yang dikuasai SBAL.

Saat Jonter menjabat Kepala Desa juga, Kota Baru sempat berkonflik penguasaan lahan dengan SBAL. "Jadi dulu, desa-desa ini sudah ribut. Perusahaan mengklaim sudah ganti rugi. Ternyata diam-diam, tidak transparan," kata Jonter.

Ia pun mengungkap kejanggalan pada HGU yang dimiliki SBAL. Menurut dia, HGU terbit pertama sekali pada Desember 1994. Kala itu, lahan seluas 6.200 hektare sebagai tertulis dalam HGU masih di berada wilayah administrasi Kecamatan Siak Hulu.

"Anehnya, di HGU hanya di Desa Suka Maju, Kota Baru dan Kota Bangun. Tidak ada tercatat di Desa Koto Aman dan Kota Garo," ungkap Jonter.

Padahal, Kota Garo adalah desa induk. Koto Aman merupakan pemekaran dari Kota Garo.

Baca: 9 Hari Bertahan di Pekanbaru dan Menginap di Bawah Flyover, Ini Harapan Ratusan Warga Desa Koto Aman

Halaman
12
Penulis: Fernando Sihombing
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved