Merajut Sekolah yang Berbudaya: Belajar dari Guru Helen Keller

Seorang Helen Keller tentulah mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, kalau tidak mungkin kata – kata di atas tidak keluar dari mulutnya.

Merajut Sekolah yang Berbudaya: Belajar dari Guru Helen Keller
Foto/net
ilustrasi 

Dunia ini penuh penderitaan, tetapi juga penuh dengan cara untuk menyelesaikannya. - Helen Keller -

Seorang Helen Keller tentulah mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, kalau tidak mungkin kata – kata di atas tidak keluar dari mulutnya.

Kisah hidupnya di masa kanak – kanak digambarkan begitu sulit dalam film “The Miracle Worker” yang tayang pada tahun 1962. Diceritakan bagaimana seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun yang seharusnya menikmati sekolah, hanya berdiam diri di rumah karena keterbatasan fisik.

Ia tidak hanya buta, namun tuli dan tidak dapat berbicara layaknya gadis seusianya. Dunia gelap dan hening, serta tidak didukung oleh keluarga yang mengerti kondisinya, Helen Keller tumbuh menjadi anak yang temperamen dan ia sering mengamuk seperti memecahkan piring atau benda – benda lain, bahkan ia juga menyakiti adiknya yang masih balita.

Tidak hanya soal ketidakmampuan Helen Keller mengendalikan diri, ia juga memiliki masalah yang tak kalah besarnya yaitu etika.

Ini membuat keluarga menganggap Helen sebagai orang gila dan ia juga sering disamakan dengan hewan. Keluarga juga sempat mengambil keputusan untuk mengirim Helen ke rumah sakit jiwa karena mereka menyerah mendidiknya.

Helen Keller beruntung bertemu guru yang memiliki pengalaman hidup yang mirip dengannya sehingga ia tidak merasakan kelamnya Rumah Sakit Jiwa. Dialah Anne Sullivan, yang mendampingi Helen Keller dengan sabar dan tekun.

Kini Helen Keller dikenang sebagai salah satu inspirator bagi dunia selama hidupnya hingga sekarang.

Dia juga mendapat gelar kehormatan dari berbagai universitas, salah satunya dari universitas Harvard.

Sang guru, Anne Sullivan, tidak hanya dikenang sebagai orang yang paling yang mendampingi Helen Keller hingga guru ini meninggal di tahun 1936, namun ia menjadi satu – satunya orang yang menanamkan benih manusia berbudaya dalam diri Helen Keller.

Halaman
1234
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved