Saat Ini Harga Kelapa Hanya Rp800, Pemkab Inhil Fokus Optimalisasi Produk Turunan

Pemkab Inhil gencar mencari solusi untuk mengatasi kelesuan harga kelapa yang saat ini terjadi dan merugikan masyarakat petani kelapa.

Saat Ini Harga Kelapa Hanya Rp800, Pemkab Inhil Fokus Optimalisasi Produk Turunan
Tribunpekanbaru/T.Muhammadfadhli
Pemkab Inhil fokus mengembangkan produk turunan berbahan dasar kelapa, untuk mengatasi harga kelapa yang saat ini sedang jatuh. 

tribunpekanbaru.com - Bupati Inhil, HM Wardan, mengupas potensi perkelapaan Kabupaten Inhil, saat gala dinner dan temu ramah dengan Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar serta masyarakat di Gedung Engku Kelana Tembilahan, Minggu (24/3) malam lalu.

Wardan menuturkan, Inhil merupakan kabupaten dengan hamparan perkebunan kelapa terluas, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

Dari data yang dirilis Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa, dikatakan Wardan, luas perkebunan kelapa di Inhil mencapai 400 ribu hektare atau 11,34 persen dari total luas lahan perkebunan kelapa Nusantara, dengan total produksi hingga 4 miliar butir kelapa per tahun.

"Karena itu, kami Pemerintah Kabupaten Inhil fokus pada upaya optimalisasi sektor perkebunan kelapa," ungkapnya.

Lebih jauh dijelaskan, saat ini jumlah masyarakat pekebun kelapa di Kabupaten Inhil telah menyentuh angka 70 persen dari total penduduk. Namun dominasi perkebunan kelapa terhadap tingkat pendapatan para pekebun mengalami hambatan, karena penurunan harga kelapa yang terjadi sudah cukup lama.

"Hari ini harga kelapa hanya Rp800. Padahal akhir 2017 lalu harga kelapa sempat menyentuh Rp3.600. Dengan begitu, terjadi kelesuan ekonomi yang amat dirasakan tidak hanya oleh masyarakat, tapi juga daerah," jelas Bupati.

Solusi yang tengah diupayakan Pemkab Inhil di antaranya menciptakan produk turunan berbahan baku kelapa untuk kemudian dipasarkan. Diharapkan, produk olahan berbahan dasar kelapa akan mampu mendorong komoditas kelapa lokal mencapai harga yang diharapkan masyarakat.

"Namun masyarakat kita banyak yang belum mampu mengolahnya, hingga beberapa waktu lalu Pemkab Inhil melaksanakan pelatihan pengolahan kelapa sebagai solusi mengatasi penurunan harga," papar Wardan.

Dia lalu mengisahkan, kelapa lokal pernah mencapai masa jaya pada 1990-an. Saat itu warga Inhil mampu mengolah kelapa menjadi produk turunan berupa VCO atau minyak kelapa. "Saat itu, seingat saya, malah Pemerintah yang kewalahan mendistribusikan produk hasil olahan masyarakat,” ujarnya. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved