KPU Pelalawan Gelar Simulasi Pemilihan di TPS, Satu Pemilih Butuh Waktu Dua Menit

KPU Pelalawan menggelar simulasi pemungutan suara. Selain mencatat waktu yang dipakai pemilih, KPU juga simulasi melayani protes.

KPU Pelalawan Gelar Simulasi Pemilihan di TPS, Satu Pemilih Butuh Waktu Dua Menit
Tribun Pekanbaru/Palti Siahaan
KPU Pelalawan menggelar simulasi pencoblosan dan penghitungan suara di TPS, pada Senin (1/4). Simulasi ini bagian dari Bimtek yang diikuti PPK di Pelalawan. 

tribunpekanbaru.com - Senin (1/4) kemarin, KPU Pelalawan menggelar simulasi proses pemungutan suara serta penghitungan surat suara. Simulasi ini dilaksanakan di halaman kantor KPU Pelalawan.

Dalam simulasi ini, KPU Pelalawan berhasil mendapatkan estimasi waktu bagi warga saat memberikan hak pilihannya di bilik suara. Dari mulai mencoblos hingga memasukkan kertas suara ke dalam kotak suara.

Ketua KPU Pelalawan, Wan Kardi mengatakan, paling lama warga menghabiskan waktunya mulai dari mencoblos dan memasukkan ke dalam kotak suara adalah selama dua menit, sedangkan waktu paling cepat satu menit.

"Kalau sudah punya pilihan dari rumah, waktu yang dibutuhkan satu orang warga hanya satu menit untuk mencoblos lima belas suara, dan memasukkannya ke dalam kotak suara," kata Wan Kardi.

Simulasi ini dihadiri Bawaslu Pelalawan dan juga para Komisioner KPU Pelalawan.

Ditambahkan, simulasi merupakan bagian dari bimbingan teknis (Bimtek) terhadap Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Bimtek ini sendiri sudah dilakukan sejak hari Minggu (31/3) lalu.

Petugas TPS dalam simulasi ini adalah petugas PPK peserta Bimtek. Begitu juga saksi dari parpol dan pemilih, yang juga petugas PPK. Simulasi ini dibuat sama persis seperti saat pemilihan sebenarnya.

Dari simulasi itu, KPU Pelalawan menemukan solusi atas beberapa peristiwa yang mungkin terjadi di saat pencoblosan nanti. Seperti kemungkinan munculnya protes dari pihak terkait. "Saat simulasi, ketika ada protes, semua petugas fokus ke protes sehingga pencoblosan terhenti," kata Wan Kardi.

Menurutnya, saat pencoblosan sebenarnya pada 17 April nanti, bila ada protes, maka hanya satu petugas saja yang melayani protes tersebut. Sehingga warga lain yang hendak memilih tidak terganggu. "Jadi di saat ada protes, proses pencoblosan harus tetap berjalan. Ini yang kita dapat dalam simulasi," terangnya.

Ditambahkan, simulasi dilakukan untuk melihat kesiapan penyelenggara, termasuk agar penyelenggara mengetahui hal-hal teknis di hari pencoblosan nanti. "Setelah ini akan ada simulasi gerak di tingkat bawah. Tidak teknis seperti yang kita buat ini. Simulasi ke tingkat bawah akan melibatkan PPS," terang Wan Kardi lagi. (pis)

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved