Ratusan Napi di Pekanbaru Tercatat Dalam DPT Pemilu 2019

Sekitar 300 orang lebih narapidana (Napi) Lapas Klas II A Pekanbaru yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019.

Ratusan Napi di Pekanbaru Tercatat Dalam DPT Pemilu 2019
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Susana Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B, Jalan Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Kamis (29/3/2019). Sejak beberapa bulan terakhir, kawasan di dalam Rutan tersebut terus mengalami pembenahan, seperti rumah ibadah musala dan gereja yang semakin bagus. Selain itu ada tempat cukur rambut, perpustakaan, taman yang dilengkapi dengan jalur refleksi kaki dan penampilan musik saat jam kunjungan Rutan. (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Sekitar 300 orang lebih narapidana (Napi) Lapas Klas II A Pekanbaru yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT), akan ikut menyalurkan suaranya pada Pemilu 17 April 2019 mendatang.

Mereka yang bisa ikut mencoblos ini, semuanya memiliki KTP Pekanbaru. Dua Tempat Pemungutan Suara (TPS), sudah disiapkan sebagai lokasi para narapidana memilih nantinya.

Kepala Lapas Klas II A Pekanbaru, Yulius Sahruza kepada Tribun, Senin (15/4/2019) menjelaskan, total jumlah narapidana yang ada di Lapas sekitar 1.685 orang.

"Jadi napi yang berasal dari luar Pekanbaru tidak bisa memilih, padahal banyak jumlahnya yang dari luar Pekanbaru, jadi mereka tidak bisa memilih sesuai aturan yang ada saat ini," kata Yulius.

Hasil koordinasi dengan KPU beberapa waktu lalu katanya, awalnya para napi diminta mengumpulkan KTP elektronik untuk pendataan.

"Hanya saja yang bisa diakomodir orang Pekanbaru. Yang belum punya KTP elektronik juga tentunya harus punya KK Pekanbaru," jelasnya.

Lebih lanjut ia menerangkan jika narapidana yang menghuni Lapas Klas II A Pekanbaru mayoritas berasal dari kabupaten lain di Riau.

Selain itu, masa hukuman yang dijalani mayoritas penghuni Lapas cenderung lama.

"Narapidana di Lapas kita banyak pindahan dari Kabupaten lain di Riau. Belum lagi pidananya tinggi, ada yang sudah 6 tahun, 7 tahun di dalam. Jadi yang lain terancam tidak bisa memilih," rincinya.

Sementara itu lanjut Yulius, untuk menyiasati hal ini, sebenarnya KPU sudah menyarankan agar membawa formulir A5, untuk pengurusan mutasi memilih.

"Kita juga masih menunggu dari pihak keluarga napi," ucapnya.

Untuk operasional TPS di Lapas dipaparkan Yulius, sama dengan TPS pada umumnya.

Untuk pengamanan, disiagakan personel baik dari internal, yang terdiri dari pegawai Lapas, lalu dari eksternal personel kepolisian.(*)

Penulis: Rizky Armanda
Editor: Ilham Yafiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved