Penjelasan Hukum Ghibah (Gosip) Saat Jalani Puasa Ramadhan: Bisa Membatalkan Puasa

Pernahkah kalian gosip atau membicarakan keburukan orang lain? jika pernah kalian berarti telah melakukan Ghibah.

Penjelasan Hukum Ghibah (Gosip) Saat Jalani Puasa Ramadhan: Bisa Membatalkan Puasa
tribunwow
Illustrasi Bergosip & Hukumnya saat jalani Puasa Ramadhan 

Penjelasan Hukum Ghibah (Gosip) Saat Jalani Puasa Ramadhan: Bisa Membatalkan Puasa

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pernahkah kalian gosip atau membicarakan keburukan orang lain? jika pernah kalian berarti telah melakukan Ghibah.

Dalam agama Islam, perbuatan Ghibah  merupakan sebuah tindakan yang dilarang untuk dilakukan umat muslim.

Tak hanya selama Ramadhan, sebenarnya Ghibah menggunjingkan orang lain juga tidak diperbolehkan dalam keadaan tidak sedang berpuasa.

Dikutip TribunWow.com dari islami.co, orang yang melakukan ghibah diibaratkan seperti orang yang sedang memakan bangkai saudaranya.

Melalui hadistnya, Ibnu Majah menjelaskan bahwa ghibah pada bulan puasa dapat menyebabkan batalnya ibadah tersebut.

Baca: Mudik Lebaran dengan Diskon Tiket Pesawat hingga Rp 400 Ribu di Traveloka

Baca: Andi Arief Sebut Ada Setan Gundul dan Genderuwo di Koalisi Prabowo Sandi, Ini Reaksi BPN

Baca: 2 Pemain Ajax Minta Izin Jalani Puasa Ramadhan, Ahli Kebugaran:Tindakan yang Tidak Bertanggung Jawab

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ

“Banyak sekali orang yang puasa, ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar.” (HR: Ibnu Majah)

Hadist tersebut merupakan ungkapan bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, namun ia berbuka dengan sesuatu yang haram, dalam hal ini adalah daging saudaranya (ghibah).

Yang dimaksud adalah orang-orang yang berpuasa dan tidak mampu menjaga anggota tubuhnya untuk berpuasa pula (dengan menjauhi perbuatan dosa).

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ ، وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong, dan melakukan perbuatan bohong, maka Allah tidak membutuhkan lagi ia meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR: Al-Bukhari).

Halaman
123
Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved