Harga TBS Riau Dipatok Rp 1.434,03 per Kg

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Provinsi Riau pada penetapan harga di Dinas Tenaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Riau, kembali turun.

Harga TBS Riau Dipatok Rp 1.434,03 per Kg
Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Sejumlah truk pengangkut TBS Sawit tampak melintas di Jalan Bukit Raya Datuk, Kota Dumai. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Harga Tandan Buah Segar (TBS) Provinsi Riau pada penetapan harga di Dinas Tenaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Riau, kembali turun.

Untuk periode 8 sampai 14 Mei 2019, penurunan terjadi pada setiap kelompok umur kelapa sawit dengan jumlah penurunan terbesar dialami oleh kelompok umur 10-20 tahun, atau sebesar Rp 21,51/Kg.

Penurunan pekan ini mencapai 1,48 persen dibanding harga minggu lalu. "Sehingga harga TBS Sawit Riau periode saat ini menjadi Rp 1.434,03/Kg," ungkap Kasi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan DTPHP Riau, Tengku Neni Mega Ayu, Selasa (7/5/2019).

Neni mengaku, faktor internal yang menjadi penyebab turunnya harga TBS Riau periode ini, masih disebabkan oleh turunnya harga jual CPO dan kernel dari seluruh perusahaan yang menjadi sumber data DTPHP Riau.

Namun ada sedikit perbaikan dimana seluruh perusahaan berhasil melakukan penjualan.

Untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami penurunan sebesar Rp 104,67/Kg, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 364,55/Kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 179,49/Kg, dan PT. Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp 225,20/kg dari harga minggu lalu.

Sedangkan untuk harga jual kernel, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan sebesar Rp 105,45/Kg Asian Agri Group mengalami penurunan sebesar Rp 62,98/Kg dan PT. Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp 65,00/kg dari harga minggu lalu.

"Untuk faktor eksternal penurunan harga TBS dipengaruhi oleh kembali memanasnya perang dagang AS dan China. Presiden AS, Donald Trump mengancam akan memberlakukan bea impor produk China. Trump sebenarnya sudah pernah mengeluarkan ancaman tersebut. Peningkatan bea impor awalnya direncanakan mulai berlaku pada bulan Maret 2019," ujar Neni.

"Akan tetapi belakangan dirinya menunda hal itu karena melihat perkembangan dialog dagang yang positif dengan China Namun ternyata kemungkinan tidak ada damai dagang sama sekali kembali mencuat. Hal ini dapat membuat rantai pasokan global akan berputar semakin lambat, bahkan sangat lambat. Mengingat yang berseteru adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia," tambah Neni. (dri)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: kasri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved