Ramadan

Arak-arakan Seru Jelang Sahur, Tradisi Unik Pengantin Sahur di Pulau Palas Inhil

Pulau Palas, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memiliki tradisi unik yang hanya ada di bulan Ramadan, yaitu pengantin sahur.

Arak-arakan Seru Jelang Sahur, Tradisi Unik Pengantin Sahur di Pulau Palas Inhil
TribunPekanbaru/T Muhammad Fadli
Arak-arakan pengantin sahur 

TRIBUNINHIL.COM, TEMBILAHAN - Pulau Palas, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memiliki tradisi unik yang hanya ada di bulan Ramadan, yaitu pengantin sahur.

Enam pasangan yang semuanya laki-laki, dihias seperti layaknya sepasang pengantin.

Mereka diarak berjalan beriringan oleh pengunjung yang menyaksikan kemeriahan festival budaya tersebut.

Arak-arakan pengantin sahur memang sudah menjadi tradisi masyarakat setempat dengan tujuan untuk membangunkan warga agar jangan sampai berpuasa tanpa bersahur, karena tertidur.

Kades Pulau Palas Arifin menjelaskan, arak- arakkan biasanya dilaksanakan setiap malam Minggu pada Ramadan, mulai dari pukul 00.30 WIB sampai pukul 02.30 WIB.

“Arak-arakan pengantin sahur ini menyusuri rumah warga pada malam minggu saja, mulai dari Pasar Desa Pulau Palas sampai ke Jalan Provinsi Parit VII. Ini sudah menjadi tradisi sejak dulu,
awalnya warga hanya begadang saja dan terinspirasi menjadi pengantin sahur” ujar Arifin.

Lebih lanjut Arifin menuturkan, arak-arakan pengantin sahur ini juga akan diperlombakan pada minggu kedua atau ketiga Ramadan, dalam Festival Seni Budaya Pengantin Sahur.

Pada festival ini, dikatakan Arifin, biasanya terdapat 12 pasang pengantin yang mengikuti festival dengan kriteria yang penilaian adalah kecantikan mempelai wanita dan keserasian pasangan pengantin serta singasana tempat pengantin yang akan diarak mengelilingi Desa Pulau Palas.

“Untuk tahun ini mungkin akan digelar pada minggu kedua dan ketiga juga, ini yang mau kita rapatkan,” imbuhnya.

Festival ini pun cukup menarik perhatian masyarakat sekitar dan selalu ramai dihadiri oleh pengunjung yang berdatangan dari berbagai pelosok di Desa Pulau Palas dan desa - desa sekitar.

Dalam perjalanannya sebagai sebuah kearifan lokal yang sudah berlangsung lama semenjak tahun 1970 dan selalu dilestarikan dan diselenggarakan khususnya pada malam minggu setiap bulan suci Ramadan.

Menurut Arifin, memang terdapat pro kontra mengenai pelaksanaan pengantin sahur ini.
Oleh karena itu, pemerintah desa dan panitia terus melakukan penyesuaian dari tahun ke tahun sesuai dengan kondisi norma masyarakat.

“Terus kita sesuaikan dengan masyarakat. Kalau dulu musik arak-arakannya bebas saja, saat ini kita sesuaikan dengan musik Islami. Namanya budaya tradisi harus kita lestarikan,” pungkasnya. (Tribunpekanbaru.com/tengku muhammad fadhli)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved