VIDEO: Manggala Agni Kenalkan Pembuatan Cuka Kayu Sebagai Solusi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Dilanjutkan Andrean, alat drum pembuat cuka kayu cukup sederhana, yaitu drum alumunium bekas, tabung freon bekas, pipa besi, selang dan bambu

TRIBUNPEKANBARU.COM - Sejak pertama kali Manggala Agni didirkan tahun 2002 lalu, tugas utama brigade berlambang orangutan bertopi ini adalah fokus melakukan pencegahan, diantaranya bagaimana mengubah pola pikir masyarakat agar jangan mengambil bagian dalam memulai kebakaran hutan dan lahan.

Berbagai pendekatan terus dilakukan, namun melarang tanpa memberi solusi bukanlah hal yang bijak, karena tidak mudah mengganti kebiasaan yang telah ditularkan secara turun-temurun.
Hal ini disampaikan seorang Kepa Regu I Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Rengat, Andrean kepada Tribun Pekanbaru, Kamis (11/4/2019) lalu.

Menurutnya, saat melakukan sosialisasi, ia bersama tim nya tidak langsung berbicara soal kebakaran dan dampak lingkungannya, "kami tidak masuk dengan pakaian dinas, pelan-pelan kami cari potensi yang ada di desa, seperti aktifitas apa yang dilakukan disana, bagaimana cara mereka menanam, tanaman apa saja, pupuk apa yang biasa digunakan, apakah kompos atau yang lain, setelah melakukan riset, baru kami lakukan edukasi," kata Andrean saat ditemui di Markas Manggala Agni Daops Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu.

Baca: Kisah Sedih Sipongi, Orangutan yang Jadi Sumber Semangat Brigade Manggala Agni

Baca: Petugas Maggala Agni Tenteng Pompa Sejauh 600 Meter untuk Padamkan Api

Seiring waktu, muncullah ide untuk memperkenalkan cuka kayu atau asap cair sebagai solusi pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dikawasan itu, "alat pembuatan cuka kayu ini dipelajari dari Institut Pertanian Bogor, ini adalah terobosan Manggala Agni Daops Rengat untuk mengubah pola pikir masyarakat, dan Alhamdulillah kita berhasil tanpa ada paksaan dan penolakan," ujar Andrean.

Diceritakannya, kegiatan membuat cuka kayu bisa mencegah terjadinya kebakaran lahan, contohnya saat masyarakat membersihkan lahan, tanaman-tanaman liar yang telah ditebas biasanya dibiarkan kering sehingga dapat menjadi bahan bakar, "bahan-bahan bakar itu bisa kita jadikan cuka kayu sehingga tidak ada penumpukan bahan bakar di lahan kebun mereka dan tidak terjadi kebakaran, karena bahan bakarnya kita olah menjadi cuka kayu, cairan cuka kayunya ini pun bisa mereka manfaatkan menjadi pupuk dan pembasmi hama," katanya lagi.

Cuka Kayu Manggala Agni
Cuka Kayu Manggala Agni (Grafis Tribun Pekanbaru)

Dilanjutkan Andrean, alat drum pembuat cuka kayu cukup sederhana, yaitu drum alumunium bekas, tabung freon bekas, pipa besi, selang dan bambu.

Awalnya, drum dilubangi bagian bawahnya sebanyak 20 lubang dengan diameter 1 sentimeter, setelah itu, setengah bagian atas drum dibuat pintu untuk tempat memasukkan kayu, setengah bagian atas drum lainnya dibuat penyambungan antara pipa besi dan tabung freon, pada bagian atas samping tabung freon itu dibuat saluran pembuangan asap dari bambu, sedangkan bagian bawah tabung dibuat saluran selang untuk mengaliri uap cuka kayu ke wadah pengumpulan.

"caranya dimulai dari mengumpulkan bahan bakar, bisa daun, ranting, batang kayu atau pelepah sawit, jenis bahan bakarnya bisa apa saja.

Kita potong kecil-kecil untuk bisa masuk kedalam drum lalu disusun dalam keadaan rebah sampai penuh, setelah itu kita bakar dibawahnya, setelah terasa panas dipermukaan, drum itu kita tutup, pada bagian atasnya ditutup lagi dengan lumpur maupun dengan pasir, beberapa saat kemudian, asapnya nanti akan terkumpul dan terjadi sirkulasi uap di dalam tabung, uap ini menjadi cair dan cairan itu disuling masuk kedalam tempat yang telah ada, cairan itulah yang dinamakan dengan cuka kayu atau asap cair" jelas Andrean.

Baca: VIDEO: Semangat Srikandi Manggala Agni Padamkan Kebakaran Lahan dan Hutan

Baca: FOTO: Aksi Srikandi Manggala Agni Padamkan Kebakaran Lahan di Rengat

Dalam waktu 12 jam, drum pembuat cuka kayu dapat menghasilkan sembilan liter cuka kayu dan satu drum arang, namun jika petani ingin menghasilkan cuka kayu saja, dapat membakarnya selama 24 jam, nanti akan mendapatkan 18 liter cuka kayu, tetapi bahan bakar di dalam drum akan menjadi abu semua.

Untuk penggunaannya, cuka kayu dapat langsung disiramkan ke tanah atau ke batang kayu yang terserang hama, atau bisa juga dicampur air dengan perbandingan dua tutup botol air mineral untuk satu liter air.

Pembuatan cuka kayu juga dapat menjadi ladang bisnis yang menjanjikan, para petani yang biasanya tergabung dalam masyarakat peduli api (MPA) bisa menjual cairan itu dari harga Rp 11 ribu hingga Rp 17 ribu, tergantung berapa kali penyulingan, bahkan ada petani yang menyuling cuka kayu hingga tujuh kali, semakin disuling, warnanya semakin bening dan khasiatnya juga semakin baik.

Di Markas Manggala Agni Daops Rengat, para anggotanya sering membuat cuka kayu, hasilnya diberikan secara cuma-cuma kepada petani.

Masih menurut Andrean, selain menjadi pupuk ternyata cuka kayu juga mempunyai manfaat lain, yaitu obat gatal-gatal,menghilangkan bekas luka serta jerawat, "biasanya yang pakai (obat, red) itu MPA api, harga alat pembuat cuka kayu ini sekitar Rp 500 ribu, dalam beberapa bulan terakhir, Daops rengat sudah menyalurkan 17 unit secara gratis ke sejumlah kelompok MPA di wilayah kerja kami, jadi inilah salah satu solusi pembukaan lahan tanpa bakar disni, selain terhindar dari kebakaran, petani juga medapatkan pupuk yang mantap bagi tanaman mereka," tutup pria yang telah mengabdi selama 12 tahun pada Brigade Manggala Agni tersebut.

(Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)

Penulis: TheoRizky
Editor: didik ahmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved