Tekno

Tuding Disukai Diktator untuk Mengawasi Warganya, Bos Telegram Sebut WhatsApp Tak Akan Pernah Aman

Tidak heran bila diktator menyukai WhatsApp. Lemahnya keamanan memungkinkan mereka untuk mengintai warganya sendiri

Tuding Disukai Diktator untuk Mengawasi Warganya, Bos Telegram Sebut WhatsApp Tak Akan Pernah Aman
net
whatsapp dan telegram 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Baru-baru ini, WhatsApp dilaporkan memiliki celah keamanan yang membuatnya berpotensi disisipi malware jenis mata-mata atau spyware lewat voice call. Kabar tersebut mengundang reaksi dari pesaingnya, Telegram.

Pendiri Telegram, Pavel Durov, mengatakan bahwa WhatsApp tidak akan pernah aman. Durov mengungkapkan pandangannya tentang WhatsApp dalam sebuah blog.

"WhatsApp itu punya riwayat yang konsisten, dari nol enkripsi hingga rentetan masalah yang anehnya cocok untuk kepentingan pengawasan," tulis Durov.

Setelah kabar spyware merebak, WhatsApp segera meminta para penggunanya di seluruh dunia untuk segera memperbarui aplikasi untuk menambal lubang keamanan.

Kabarnya, celah tersebut bisa dimanfaatkan oleh aktor negara untuk mengintai kalangan seperti para jurnalis, aktivis, dan sebagainya.

Baca: Sudah Penuhi TKDN dan Terdaftar di Kemenperin, Realme X Dipastikan Segera Masuk Indonesia

Baca: Realme X Resmi Meluncur, Fitur Serba Canggih- Varian RAM 8GB/128 GB Dibanderol Rp 3,7 Juta

"Berita ini (spyware) tidaklah mengejutkan bagi saya. Tahun lalu, WhatsApp mengakui bahwa mereka punya masalah yang sama, video call via WhatsApp adalah akses yang dibutuhkan para peretas untuk masuk ke seluruh data pengguna," tulis Durov.

Durov pun menyindir tiap kali WhatsApp memperbaiki masalah keamanan, akan ada celah keamanan baru lagi yang muncul.

Ia juga membandingkan WhatsApp dengan aplikasi besutannya.

Berbeda dengan telegram, WhatsApp bukanlah aplikasi open-source, sehingga para peneliti keamanan tidak bisa mengecek apakah ada "pintu rahasia" atau backdoor di kode WhatsApp yang bisa dipakai pihak tertentu untuk menyadap pengguna.

Diblokir bangsa sendiri

Halaman
1234
Editor: CandraDani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved